Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

WiMax (terancam) mati suri

Tujuh tahun kemunculannya di Indonesia, WiMax masih juga bergeming, diam tak beringsut, dan terus terlelap dalam tidur panjangnya.
Lingga Sukatma Wiangga
Lingga Sukatma Wiangga - Bisnis.com 27 Juli 2012  |  06:48 WIB
Bagikan

Tujuh tahun kemunculannya di Indonesia, WiMax masih juga bergeming, diam tak beringsut, dan terus terlelap dalam tidur panjangnya.

 

Meskipun pemerintah akhirnya menuruti kemauan komunitas dan industri dengan mengubah regulasi dari 16d ke teknologi netral atau mengarah ke 16e, namun WiMax seperti layu sebelum berkembang, sama sekali tak ada gemanya, tidak seperti awal kemunculannya pada 2005. Saat itu hampir semua pejabat pemerintah dan terutama vendor memandang WiMax merupakan telekomunikasi masa depan.

 

Namun kenyatannya, jumlah penggunanya saat ini tak lebih dari puluhan ribu orang saja. Bandingkan dengan teknologi GSM/EDGE/3G yang muncul pada 1993 dan operator pertama hadir pada 1994, di mana hanya dalam selang waktu 19 tahun sudah memiliki pelanggan lebih dari 240 juta orang. Fantastis!

 

Menurut mantan anggota Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia Heru SUtadi, jika dilihat dari best practise yang berhasil di dunia, bisa dihitung dengan jari, dan arahnya semua ke LTE (Long Term Evolution).

 

"Kemampuan WiMax juga tidak seperti yang digembar-gemborkan, dalam hal kecepatan dan cakupan wilayah," tuturnya.

 

WiMax sendiri merupakan pengembangan dari teknologi Wi-FI yang sudah biasa kita gunakan sehari-hari, salah satunya sebagai wireless pada komputer atau laptop.

 

Secara umum dikenal dua jenis WiMAX, yaitu WiMAX untuk jaringan tetap atau disebut Fixed WiMAX (standar IEEE 802.16d), dan WiMAX untuk jaringan bergerak atau sering disebut Mobile WiMAX (standar IEEE 802.16e). Standar IEEE 802.16d terbit pada Januari 2004, sedangkan IEEE 802.16e dipublikasikan tahun 2005.

 

Fixed WiMAX mampu mendukung kecepatan transfer data sampai 75 Mbps dengan jangkauan sampai 50 km. Sedangkan Mobile WiMAX mampu mencapai kecepatan transfer data hingga 15 Mbps dengan jangkauan 20-50 km.

 

Dengan kemampuan tersebut, WiMAX disebut sebagai jaringan generasi keempat (4G), meskipun sebetulnya kemampuan ini belum memenuhi standar 4G yang ditetapkan IMT-Advanced. Teknologi WiMAX lebih tepat disebut sebagai jaringan 3.9G.

 

Implementasi WiMAX terus merambah ke berbagai negara, hingga pada Maret 2011 Forum WiMAX melaporkan telah tergelar 582 jaringan di 150 negara. Sementara ABI Research memprediksi pada akhir 2015 pengguna WiMAX akan mencapai 59 juta.

 

Adapun, teknologi Long Term Evolution (LTE) merupakan standar terbaru teknologi jaringan bergerak, sebagai kembangan dari GSM/ EDGE dan UMTS/ HSxPA. LTE mampu memberikan kecepatan downlink hingga 100 Mbps dan uplink hingga 50 Mbps.

 

Seperti halnya WiMAX, LTE sering disebut sebagai jaringan 4G, meskipun lebih tepat disebut sebagai jaringan 3.9G. Sejumlah lembaga riset memperkirakan jumlah pelanggan pada akhir tahun 2016 bakal mencapai 469 juta.

 

WiMAX lahir sekitar dua tahun mendahului LTE. Versi terbaru WiMAX dan LTE diyakini mampu memberikan kecepatan 1 Gbps untuk pemakaian tetap dan 100 Mbps untuk pemakaian bergerak. Keduanya juga sama-sama kandidat 4G. WiMAX berasal dari teknologi broadband Wi-FI, sedangkan LTE berasal dari teknologi bergerak 2G/3G.

 

Laporan Maravedis menyimpulkan bahwa pertumbuhan pesat LTE di tahun 2011 telah menahan pertumbuhan pelanggan WiMAX yang semula berkisar 25%-30% per tahun menjadi 14% saja.

 

Pada November 2009, pemerintah Indonesia menetapkan pemenang tender lisensi WiMAX untuk 15 zona secara nasional. Beberapa pemenang tender mundur hingga pada Agustus 2010 tinggal lima operator yang mengantongi lisensi tersebut, yaitu Telkom, Indosat Mega Media, Berca, Jasnita dan First Media.

 

Dari lima operator tersebut baru First Media dan Berca yang telah menggelar WiMAX secara komersial. Sedangkan Telkom, Indosat dan Jasnita tampaknya ragu-ragu untuk melangkah lebih jauh.

 

First Media telah menggelar WiMAX di wilayah Jabotabek dengan 10 BTS. Penjualan komersial telah dimulai awal 2011 dengan merek dagang Sitra. Pada November 2011 Sitra menyatakan telah mempunyai 7.000 pelanggan.

 

Berca baru melakukan komersial pada Februari tahun ini dengan merk dagang WiGo. Jaringan WiGO tergelar di delapan kota yaitu Medan, Balikpapan, Batam, Denpasar, Makassar, Pekanbaru, Palembang, dan Pontianak. Sampai akhir tahun 2012 WiGO merencanakan 400 BTS WiMAX.

 

WiMax terbukti kurang berkembang di Indonesia, karena nyatanya, sejak pengumuman pemenang tender WiMax di pita 2,3 GHz pada Juli 2009, layanan berteknologi tinggi itu tak pernah menghampiri masyarakat pengguna Internet di Indonesia. Jangankan mewujudkan mimpi menjadikan Wimax sebagai komunikasi mobile sehari-hari, menjadikannya sebagai backbone pun jauh panggang dari api.

 

Mengapa demikian? Konon, banyak kepentingan yang bermain di balik perkembangan WiMax di Indonesia. Tentunya yang berkepentingan itu adalah para operator seluler 3G dan vendor perangkat telekomunikasi.

 

Meski berulangkali Ketua Asosiasi Telekomunikasi Seluler Indonesia (ATSI) Sarwoto Atmosutarno memastikan tidak ada intervensi dari operator 3G terhadap kebijakan WiMax, tapi sulitnya implementasi WiMax komersial membuat dugaan tersebut tetap ada.

 

Bila dilihat dari sisi regulasi, pemerintah memang seakan menganaktirikan teknologi WiMax. Dimulai dari alokasi kanal di mana sebanyak 15 MHz untuk 15 zona pita 2,3 GHz akan dimanfaatkan untuk WiMax 16d. Dari 15 MHz tersebut akan terbagi dalam kanalisasi selebar 3,75 MHz ditambah guard band.

 

Sementara vendor WiMax hanya akan memproduksi peranti end user untuk kanalisasi 2,5 MHz dan 5 Mhz secara massal.

 

Apabila pemerintah tetap jalan dengan kanalisasi WiMax 3,75 MHz, yang bisa mengambil keuntungan adalah operator 3G yang bisa menawarkan harga lebih murah karena investasinya rendah.

 

Selanjutnya, masalah kewajiban tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) di WiMax berlaku ketat pada perangkat jaringan dan customer premises equipment (CPE)-nya, sedangkan 3G ada pada belanja modal (capital expenditure/Capex).

 

Ketentuan TKDN pada capex sangat menguntungkan operator 3G karena pelaksanaan pekerjaan fisik bisa langsung memenuhi TKDN cukup signifikan apabila memakai tenaga lokal.

 

Sejak lisensinya di tender pemerintah tahun 2009 lalu, sampai saat ini baru First Media dan Berca yang menjual teknologi WiMAX secara komersial. Itu pun dengan jumlah pelanggan yang tidak signifikan. Lalu bagaimanakah nasib WiMAX ke depan?

 

Sebagai operator GSM, Indosat tampaknya batal menggelar WiMAX. Indosat diperkirakan akan lebih fokus mempersiapkan tender LTE untuk mempertahankan 50 juta pelangganya dari gempuran XL dan Telkomsel.

 

Dari kelima operator pemegang lisensi, sebenarnya Telkom dan First Media yang paling potensial mengembangkan WiMAX. Telkom dapat memanfaatkan teknologi WiMAX untuk meng-upgrade jaringan Speedy maupun Flexi. Namun sepertinya Telkom punya pilihan lain. Mungkin Telkom memilih GPON untuk Speedy dan EVDO-LTE untuk Flexi.

 

Perkembangan WiMAX dipastikan semakin sulit manakala LTE sudah komersial. Jika tahun depan pemerintah menggelar tender LTE, kemungkinan 2014 sudah mulai komersial. Dengan demikian momentum WiMAX sangat singkat, yaitu 2012 – 2014. Mampukah ketiga operator tersebut menggenjot penetrasi WiMAX dalam dua tahun ke depan?

 

Pada kondisi demikian, sepertinya perkembangan WiMAX tidak mungkin berlari cepat. Karenanya wajar jika Berca hanya menargetkan sejuta pelanggan dalam lima tahun ke depan. Teknologi WiMAX akan menjadi bonsai akibat LTE, layu sebelum sempat berkembang. Demikianlah siklus teknologi telekomunikasi, lahir berkembang dan akhirnya mati karena teknologi yang lebih diminati.

 

Heru yang juga Ketua Forum LTE Indonesia menilai pada kasus WiMax, vendor dinilai terlalu agresif dalam memasarkan perangkat, tapi ekosistem nya tidak dibangun dari awal.

 

"Sehingga, walapun berubah dr 16d ke 16e tdk ada perubahan signifikan. Dan yakinlah, operator WiMax tingggal menunggu waktu untuk migrasi ke LTE."

 

Ekosistem yang dimaksud meliputi regulasi, standardisasi, kesiapan operator, vendor, edukasi dan sosialisasi ke masyarakat.Yang sangat jelas operator WiMax tidak siap, sebab berbeda dengan misalnya sistem berbasis GSM dr 2G ke 3G, dimana ada evolusi ganti perangkat BTS saja, tapi penggelaran wimax itu dari nol karena belum punya infrastruktur apa-apa.

 

Bila benar demikian, maka tepatlah apabila WiMax disebut sudah mati suri, karena kendala infrastruktur, modal besar, tapi peminat sedikit. Sudah begitu ditambah lagi dengan regulator yang seakan tak mau tahu.(api)

 

 

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Lingga Sukatma Wiangga
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

Terpopuler

back to top To top