Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

HashMicro, Perusahaan ERP yang Lolos dari Bootstrapping

HashMicro mampu tumbuh secara organik alias tanpa pendanaan eksternal dari investor atau yang dikenal juga dengan bootstrapping.
Thomas Mola
Thomas Mola - Bisnis.com 03 Maret 2022  |  20:33 WIB
Ilustrasi startup -
Ilustrasi startup -

Bisnis.com, JAKARTA – HashMicro sukses menjadi salah satu perusahaan penyedia perangkat lunak (software) manajemen bisnis enterprise resource planning (ERP).

HashMicro juga telah dinobatkan sebagai salah satu pemain ERP di Asia Pasifik sebagaimana dilansir Allied Market Research.

Lusiana Lu, Business Development Director sekaligus salah satu founder HashMicro mengatakan perusahaan lahir sebagai software ERP. HashMicro tumbuh bersama ketika Pemerintah Singapura secara masif mendorong adopsi IT.

“Sehingga mayoritas perusahaan-perusahaan di sana berlomba mencari vendor yang dapat mendukung transformasi tersebut,” katanya dalam keterangan resmi, Kamis (3/3/2022).

Lusiana merupakan IT engineer dan ahli manajemen bisnis asal Indonesia yang mengenyam pendidikan di Singapura. HashMicro, katanya, berhasil menjalin kerja sama dengan beberapa perusahaan raksasa seperti Abbott, Bank of China, Changi Airport.

HashMicro juga menjadi menjadi vendor digital untuk beberapa kementerian strategis seperti Kementerian Pendidikan, Kementerian Ketenagakerjaan, dan Kementerian Pertahanan Singapura.

Yang menarik dari HashMicro, kata Lusiana, ialah mampu tumbuh secara organik alias tanpa pendanaan eksternal dari investor atau yang dikenal juga dengan bootstrapping.

Bootstrapping merupakan proses membangun bisnis tanpa menarik investasi atau modal dari eksternal sehingga perusahaan dapat mengendalikan seluruh sektor lini perusahaan secara menyeluruh tanpa keputusan dari pihak lain.

HashMicro, katanya,  mengingatkan kembali bahwa perusahaan yang bootstrap memiliki kesempatan dan kebebasan untuk tumbuh secara mandiri dan berkelanjutan (sustainable business).

Lusiana tidak menampik bahwa HashMicro bisa melewati bootstrap hingga menjadi perusahaan yang sudah sustain tidaklah mudah.

“Kami harus keluar dari zona nyaman, berusaha untuk tidak membuat kesalahan, dan menginvestasikan waktu untuk menciptakan produk terbaik. Pada akhirnya, itu semua terbayarkan,” katanya.

Setelah sukses di Singapura, HashMicro mulai melebarkan sayap ke Tanah Air. Valuasi HashMicro, diklaim, tumbuh 200 persen hingga 300 persen setiap tahunnya.

Hingga saat ini, HashMicro berhasil menggaet projek besar dan memiliki beberapa cabang perusahaan di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, dan Singapura dengan lebih dari 600 karyawan..

Lusiana berpendapat fokus utama perusahaan rintisan seharusnya ada pada pengembangan produk yang sudah pasti akan laku di pasaran.

Pasalnya, Lusiana mengamati banyak founder yang ingin cepat-cepat scaling, atau tumbuh, dan menghasilkan banyak produk sekaligus.

“Awalnya mungkin ingin dilihat sebagai perusahaan inovatif. Tapi, itu akan sia-sia karena fokusnya menjadi terbagi-terbagi,” katanya.

Pada awal berdirinya, HashMicro fokus pada menghadirkan solusi utama yang dibutuhkan perusahaan target marketnya. Strategi ini disebut juga dengan product-market fit.

Selain itu, HashMicro juga berinvestasi pada branding dan marketing organik. Seiring dengan jangkauan pasar yang lebih luas dan produk yang semakin bagus, sumber daya pun juga akan makin berkembang.

“Seluruh strategi bisnis yang kami buat berangkat dari prinsip efisiensi. Pada dasarnya sumber daya awal kami terbatas, sehingga kami harus berupaya untuk memaksimalkan yang ada,” tambahnya.

Hal yang sama juga berlaku dalam manajemen SDM. Alih-alih merekrut banyak karyawan sekaligus, HashMicro memprioritaskan untuk merekrut sedikit karyawan tetapi berkualitas untuk mengembangkan produknya.

Lusiana melanjutkan setelah mendapatkan profit, perusahaan bootstrap seperti HashMicro perlu memikirkan strategi belanja yang baik.

HashMicro misalnya mematangkan adaptabilitas software untuk setiap industri, meluncurkan fitur Artificial Intelligence (AI) yang akan mendukung kerja dari software ERP yang sudah ada, dan melahirkan dua anak perusahaan yang menyasar pasar berbeda.

“Perusahaan rintisan harus rajin mempelajari tren-tren industri, memperbarui pengetahuan secara daring, dan bangun jejaring dengan perusahaan lain untuk membangun kerja sama,” tambahnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

erp digital StartUp
Editor : Wahyu Arifin

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Terpopuler

Banner E-paper
To top