Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Ini Alasan Startup Kesehatan di Indonesia Sulit Raih Pendanaan

Ketua Asosiasi Healthtech Indonesia menjelaskan alasan startup di sektor kesehatan sulit untuk mendapatkan pendanaan dari investor.
Akbar Evandio
Akbar Evandio - Bisnis.com 25 November 2020  |  19:21 WIB
Ilustrasi kegiatan fitness.  - Dok. fitnessfirst.co.id
Ilustrasi kegiatan fitness. - Dok. fitnessfirst.co.id

Bisnis.com, JAKARTA - Asosiasi Healthtech Indonesia menilai alasan minimnya perusahaan rintisan (startup) berbasis kesehatan yang mengumumkan penggalangan dana segar di tahun ini, lantaran regulasi yang belum cukup mendukung pengembangan ekosistem healthtech.

Ketua Asosiasi Healthtech Indonesia, Gregorius Bimantoro mengatakan bahwa regulasi dan kebiasaan masyarakat tersebut menjadi tantangan bagi startup kesehatan Indonesia untuk meraih pendanaan.

“Sebenarnya, kepastian investasi ini terkait dengan aturan dan secara umum healthtech di Indonesia pun tumbuh, tetapi memang belum ada landasan yang cukup kuat dan ini yang menjadi concern,” ujarnya saat dihubungi Bisnis.com, Rabu (25/11/2020).

Lebih lanjut, dia menjelaskan bahwa iklim investasi tergantung pada peraturan yang ada dan saat ini belum cukup kuat untuk layanan kesehatan. Bima menyebutkan bahwa layanan kesehatan memang memiliki aturan yang cakap untuk kebutuhan konvensional, tetapi aturan-aturan ini masih butuh waktu untuk beradaptasi ke arah teknologi.

“Layanan kesehatan kan sebagian besar pidana dan saat memindahkan [aturan] ini ke teknologi membutuhkan bridging dan membutuhkan regulatory sandbox. Makanya, kami asosiasi sudah berusaha mendorong ini sejak 2018 hingga saat ini, tetapi memang Covid-19 ini menjadi terkendala karena fokus beralih ke pelayanan masyarakat dulu,” ujarnya.

Adapun, dia mengatakan bahwa dari kebiasaan masyarakat membuat startup kesehatan di Indonesia lebih berfokus pada kesehatan dan perawatan diri (consumer healthcare).

“Kesehatan itu ada preventif, kuratif, dan lainnya. Untuk Indonesia kebanyakan healthtech support di kuratif yang mengartikan bahwa orang pakai aplikasi saat sakit saja, masyarakat pun hanya berobat kala sakit, masih jarang yang sadar untuk mencegah,” ujarnya.

Dia pun mengatakan bahwa beberapa pelaku membuat aplikasi yang bersifat promotif dan preventif secara terpisah. Hal ini juga untuk memenuhi kebiasaan masyarakat yang menilai bahwa kedua sifat tersebut sebagai bagian dari gaya hidup.

“Di Indonesia yoga, fitness, belum masuk di healthtech, masuknya di lifestyle dan gerakannya dan saat ini banyak [pelaku startup] yang mulai membuat dan masuk ke pasar ini,” katanya.

Bima pun mengamini bahwa pemain sejenis lainnya di Asia justru kebanjiran pendanaan selama pandemi Covid-19 dan berbanding terbalik di Indonesia. Namun, dia optimis bahwa ke depan startup bidang kesehatan akan makin erat dengan kebutuhan masyarakat sehingga berkorelasi dengan minat pemodal.

Berdasarkan laporan dari CB Insights mencatatkan bahwa pendanaan pada perusahaan rintisan berbasis kesehatan (healthtech) di sektor global mengalami pertumbuhan yang signifikan di kuartal III/2020. Adapun, pendanaan perawatan kesehatan di 3 wilayah utama Amerika Utara, Asia, dan Eropa meningkat dari kuartal ke kuartal. Kesehatan digital yang berbasis di Asia mengalami peningkatan pendanaan hampir 3 kali lipat.

Pendanaan Telehealth mencapai rekor baru US$2,8 miliar pada kuartal III/2020 dengan peningkatan 73 persen dari kuartal sebelumnya di 162 kesepakatan.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

kesehatan StartUp
Editor : Rio Sandy Pradana

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top