Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group
Siswa kelas IX Sekolah Menengah Pertama (SMP) Plus Pasawahan mengerjakan tugas sekolah di pos kamling Desa Pasawahan, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, Kamis, (16/7/2020). Pelajar yang tinggal di desa terpecil terpaksa mengerjakan tugas sekolah di luar rumah lantaran keterbatasan jaringan internet sedangkan sekolah hanya bisa memfasilitasi kegiatan belajar mengajar (KBM) secara daring mengunakan aplikasi WhatsApp Grup serta Facebook Messenger. ANTARA FOTO - Adeng Bustomi
Premium

Sebuah 'Catatan' di Balik Kuota Internet Gratis Kemendikbud

25 September 2020 | 20:00 WIB
Asosiasi Penyelenggara Telekomunikasi Seluruh Indonesia (Atsi) dan Kemendikbud menyepakati sejumlah 'catatan' terhadap penyaluran kuota gratis Kemendikbud.

Bisnis.com, JAKARTA - Selama ini pemerintah selalu mengambil peran utama sebagai pemberi subsidi kepada masyarakat. Namun, zaman sudah berubah, tidak menutup kemungkinan pihak swasta untuk gantian bisa mengambil alih peran itu.

Seperti pada program subsidi kuota internet gratis yang disalurkan kepada pelajar dan tenaga pengajar untuk menunjang kegiatan pembelajaran jarak jauh (PJJ). Operator seluler memberikan kuota internet gratis dengan tetap diberikan keringanan biaya produksi dari pemerintah.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) telah menawarkan harga subsidi yang dibayarkan kepada operator seluler sebesar Rp1.000 per gigabyte (GB). Namun, nominal tersebut mendapat protes keras dari Asosiasi Penyelenggara Telekomunikasi Seluruh Indonesia (Atsi) karena jauh di bawah biaya produksi mereka, yang sebesar Rp3.000-7.500 per GB.

Kendati demikian, harga tersebut akhirnya bisa disepakati oleh seluruh anggota Atsi dan bersedia mengucurkan subsidi kuota internet gratis kepada peserta didik dan tenaga pengajar dengan sejumlah 'catatan'.

Sekretaris Jenderal Atsi Marwan O. Baasyir tidak berani menjamin kualitas layanan internet gratis tersebut dengan harga yang dibayarkan oleh Kemendikbud. Ibarat pepatah Jawa ada istilah jer basuki mawa beya, yang dalam terjemahan bebas artinya adalah segala hal pasti membutuhkan biaya.

Atsi tetap berusaha agar layanan yang diberikan optimal dan dapat mendukung program pembelajaran jarak jauh. Namun, layanan tersebut akan berbeda dibandingkan dengan pengguna yang membeli layanan data secara reguler dari operator.

Silakan masuk/daftar untuk melanjutkan membaca Konten Premium

Dan nikmati GRATIS AKSES 8 artikel Konten Premium!

Masuk / Daftar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top