Jumlah Tekfin Bertambah, NPL Turut Terkerek

Naiknya NPL yang signifikan di sektor fintech di Indonesia, berkolerasi pula dengan pertumbuhan industri tersebut.
Akbar Evandio
Akbar Evandio - Bisnis.com 04 Februari 2020  |  21:54 WIB
Jumlah Tekfin Bertambah, NPL Turut Terkerek
Financial Technology (Fintech) - channelasia

Bisnis.com, JAKARTA – Meningkatnya kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) di sektor teknologi finansial (tekfin/fintech) salah satunya disebabkan oleh terus bertambahnya pelaku usaha di bisnis tersebut.

Mario Enrico, Head of Risk Management Modalku melihat kenaikan NPL yang signifikan di sektor fintech saat ini berkolerasi pula dengan pertumbuhan industri tersebut. Namun, demikian hal tersebut dinilanya  juga berdampak positif terhadap perkembangan UMKM.

Adapun, berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), tingkat NPL atau tingkat wanprestasi pengembalian pinjaman (TWP) 90 hari P2P lending pada Desember 2018 berada di level 1,45 persen.  Capaian itu meningkat pada Maret 2019 menjadi 2,62 persen, dan berakhir di level 3,65 persen pada Desember 2019

“Kami melihat UMKM terus bertumbuh setiap tahunnya dan saat ini jumlah platform fintech P2P lending juga cukup banyak, dengan bertambahnya fintech P2P lending, semakin banyak UMKM yang mendapatkan akses ke pendanaan yang tentunya akan mempengaruhi tingkat NPL,” ungkapnya saat dihubungi Bisnis, Selasa (4/2/2020).

Mario mengatakan pihaknya terus melakukan langkah- langkah untuk menekan angka NPL. Namun, menurutnya, persentase dari NPL tidak boleh menjadi penghalang untuk mendukung lebih banyak UMKM karena segmen UMKM yang dilayani pihaknya memiliki tingkat risiko yang berbeda- beda.

“Kami percaya bahwa UMKM Indonesia bisa bertahan menghadapi berbagai kondisi perekonomian Indonesia seperti tahun- tahun sebelumnya. Karena para UMKM inilah yang menjadi tulang punggung perekonomian Indonesia selama ini. Modalku bisa mengambil peran untuk memberikan edukasi kepada UMKM mengenai jenis pinjaman yang sesuai dengan tahap perkembangan bisnis UMKM,” jelasnya.

Terkait dengan peningkatan jumlah fintech, Mario mengatakan belum dapat memprediksi jumlah fintech baru. Namun demikian sebagai pemain di P2P Lending, pihaknya menyambut baik jika ada fintech baru yang bisa membantu menjangkau lebih banyak UMKM yang belum mendapatkan akses ke pendanaan sehingga bisa meningkatkan inklusi keuangan di Indonesia.

“Kami menerapkan prinsip ‘Responsible Lending’. Prinsip ini adalah asas operasi Modalku untuk melakukan analisis penilaian terhadap pertumbuhan bisnis UMKM yang mendaftar untuk pinjaman Modalku. Kami menilai kemampuan finansial bisnis mereka untuk melakukan pembayaran rutin dan kemampuan melunasi pinjaman,”jelasnya.

Menurutnya, ke depan pihaknya akan melakukan beberapa langkah antisipasi dan juga untuk mencegah default dilakukan, yakni dengan melakukan assessment, monitoring, dan collection.

Assessment dilakukan secara menyeluruh saat pengajuan pinjaman untuk memastikan peminjam memiliki kemampuan melunasi pinjaman. Setelah peminjam UMKM mendapatkan pinjaman,” terangnya.

Mario menekankan bahwa pihaknya melakukan monitoring secara rutin dengan berkomunikasi secara reguler dengan peminjam dan bila terdapat kendala bisnis dapat mendukung untuk menemukan solusi,apabila pembayaran pinjaman tidak lancar.

“Ketika peminjam terlambat membayar, Modalku akan melakukan collection,” jelasnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
umkm, npl, fintech

Editor : Yustinus Andri DP
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top