Hindari Serangan Malware, Pengguna WhatsApp Diimbau Update Aplikasi

WhatsApp mendesak para pengguna untuk meningkatkan aplikasi tersebut ke versi terbaru menyusul sebuah laporan bahwa para pengguna rentan menghadapi masalah pemasangan malware jahat pada ponsel tanpa sepengetahuan mereka.
Rayful Mudassir | 14 Mei 2019 16:17 WIB
WhatsApp - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA - WhatsApp mendesak para pengguna untuk meningkatkan aplikasi tersebut ke versi terbaru menyusul sebuah laporan bahwa para pengguna rentan menghadapi masalah pemasangan malware jahat pada ponsel tanpa sepengetahuan mereka. 

"WhatsApp mendorong semua orang untuk meningkatkan ke versi terbaru dari aplikasi kami, serta menjaga sistem operasi seluler mereka tetap mutakhir, untuk melindungi terhadap potensi eksploitasi yang ditargetkan yang dirancang untuk mengkompromikan informasi yang tersimpan di perangkat seluler," kata seorang juru bicara WhatsApp dilansir Reuters, Selasa (14/5/2019).

Perusahaan itu menyebut pihaknya melakukan komunikasi dengan seluruh partner untuk menyediakan peningkatan keamanan terbaru, "Untuk membantu melindungi pengguna kami," tambahnya.

Financial Times melaporkan bahwa kerentanan di WhatsApp memungkinkan penyerang untuk menyuntikkan spyware pada ponsel dengan menelepon target menggunakan fungsi panggilan telepon aplikasi. Dikatakan, spyware dikembangkan oleh perusahaan pengawasan cyber Israel NSO Group.

Saat ditanya tentang laporan itu, NSO mengatakan teknologinya dilisensikan kepada lembaga pemerintah yang berwenang "untuk tujuan tunggal memerangi kejahatan dan teror," dan hal tersebut diartikan pihaknya tidak mengoperasikan sistem itu sendiri.

NSO Group mengatakan akan menyelidiki penyalahgunaan perangkat mereka termasuk dengan mematikan sistem yang ada. Perusahaan itu memastikan dalam situasi apapun, NSO tidak akan terlibat dalam pengoperasian atau identifikasi target kecuali semata-mata dioperasikan oleh badan intelijen dan penegak hukum.

"NSO tidak akan atau tidak bisa menggunakan teknologinya sendiri untuk menargetkan orang atau organisasi apa pun, termasuk individu ini," kata perusahaan itu.

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
teknologi

Sumber : Reuters

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top
Tutup