CYBR Ungkap Sinyal Lonjakan Permintaan Keamanan Siber Imbas Konflik Timur Tengah

Leo Dwi Jatmiko
Sabtu, 11 April 2026 | 08:15 WIB
Presiden Direktur ITSEC Asia Patrick Dannacher memberikan sambutan dalam sebuah acara/ITSEC
Presiden Direktur ITSEC Asia Patrick Dannacher memberikan sambutan dalam sebuah acara/ITSEC
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA — Emiten jasa keamanan siber, PT ITSEC Asia Tbk. (CYBR), memproyeksikan adanya akselerasi permintaan solusi keamanan digital di pemerintah dan swasta seiring pergeseran pola konflik dari ranah fisik ke infrastruktur kritikal virtual.

Ketegangan geopolitik dunia yang kian memanas membawa paradigma baru dalam peta risiko bisnis dan stabilitas negara.

President Director ITSEC Asia, Patrick Dannacher, menilai situasi global saat ini makin memperjelas peran keamanan siber bukan lagi sekadar fungsi pendukung teknis, melainkan pilar utama stabilitas ekonomi dan kedaulatan.

Menurut hematnya, setiap konflik fisik di era modern hampir selalu diikuti oleh aktivitas peretasan yang agresif. Konflik yang terjadi hari ini menunjukkan serangan tidak hanya terjadi secara fisik, tapi juga terhadap infrastruktur digital.

“Dampaknya tidak berhenti di negara yang terlibat langsung, selalu ada efek spillover. Bagi kami, ini berarti satu hal, demand terhadap cybersecurity akan tetap kuat, bahkan cenderung meningkat,” kata Patrick kepada Bisnis, Jumat (10/4/2026).

Fenomena spillover atau efek rembetan ini terlihat jelas pada laporan terbaru otoritas keamanan Amerika Serikat. Sepanjang awal 2026, Federal Bureau of Investigation (FBI) bersama Cybersecurity and Infrastructure Security Agency (CISA) merilis peringatan serius mengenai aktivitas kelompok peretas yang terafiliasi dengan Iran.

Data intelijen menunjukkan lonjakan upaya peretasan terhadap perangkat Programmable Logic Controllers(PLC) pada berbagai fasilitas publik di AS. Aktor ancaman tersebut secara spesifik membidik sistem kendali pada infrastruktur air bersih, pengolahan limbah, hingga jaringan energi nasional. Serangan ini tidak lagi bertujuan mencuri data semata, melainkan memanipulasi operasional fisik guna menciptakan kekacauan publik dan kerugian finansial yang masif.

Kondisi tersebut menjadi alarm bagi pelaku industri global. Patrick mengamati adanya perubahan fundamental dalam cara organisasi memandang keamanan digital. Jika sebelumnya fokus industri hanya tertuju pada proteksi dasar guna mencegah peretasan, kini tren bergeser ke arah ketahanan siber (cyber resilience).

Secara komparatif, model keamanan tradisional sering kali dianggap gagal ketika menghadapi serangan state-sponsored yang terorganisasi. Patrick memaparkan perbedaan krusial pada pendekatan baru ini terletak pada kemampuan organisasi untuk terus beroperasi meski berada di bawah tekanan serangan.

“Yang akan berubah adalah cara kita semua memandang cybersecurity. Dulu lebih ke arah proteksi dasar. Sekarang mereka bicara soal ketahanan. Bagaimana kita tetap bisa terus beroperasi saat diserang, bukan hanya bagaimana mencegah serangan,” kata Patrick.

Patrick menilai ke depan akan ada peningkatan kebutuhan terutama di infrastruktur kritikal seperti energi dan finansial, kesiapan menghadapi insiden serta kebutuhan untuk memiliki kontrol keamanan yang lebih lokal dan independen.

Meskipun Indonesia tidak berada di titik pusat konflik global, posisi geografis dan ekonomi nasional tetap rentan terhadap dampak tidak langsung. Kenaikan aktivitas siber global secara otomatis meningkatkan risiko infiltrasi pada jaringan domestik yang terhubung secara internasional.

Bagi CYBR, kondisi ini merupakan peluang sekaligus tantangan untuk memperkuat penetrasi pasar di Asia Pasifik. Patrick optimis kesadaran akan pentingnya keamanan siber di Indonesia akan terus merangkak naik.

Perusahaan kini fokus mengoptimalkan solusi berbasis kecerdasan buatan (AI) untuk mendeteksi ancaman secara proaktif sebelum dampak fisik terjadi pada infrastruktur nasional.

Dengan meningkatnya kompleksitas ancaman, ketahanan siber kini menjadi investasi wajib bagi korporasi yang ingin mempertahankan keberlangsungan bisnis di tengah ketidakpastian dunia.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini di sini:

Add Bisnis.com as a preferred source on Google
Penulis : Leo Dwi Jatmiko
Editor : Leo Dwi Jatmiko
Bagikan

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terkini

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Terpopuler

Topik-Topik Pilihan

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami