Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Indef: Bisnis Motor Listrik Bisa Pacu Pendanaan Startup

Indef menyebut bisnis motor listrik bisa memacu pendanaan startup dan memperluas ekosistem usaha.
Ahmad Thovan Sugandi
Ahmad Thovan Sugandi - Bisnis.com 23 Februari 2022  |  08:02 WIB
Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi (kiri) bersiap mengendarai motor listrik saat diluncurkan sebagai kendaraan dinas Kementerian Perhubungan di Stasiun Gambir, Jakarta, Rabu (16/12/2020).  - ANTARA FOTO
Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi (kiri) bersiap mengendarai motor listrik saat diluncurkan sebagai kendaraan dinas Kementerian Perhubungan di Stasiun Gambir, Jakarta, Rabu (16/12/2020). - ANTARA FOTO

Bisnis.com, JAKARTA - Langkah perusahaan rintisan atau startup untuk mulai menggunakan motor listrik dinilai merupakan upaya untuk menjadi yang terdepan dalam mengenalkan teknologi masa depan dan dapat membuka peluang pendanaan.

Peneliti ekonomi digital Institut for Development of Economics and Finance (Indef) Nailul Huda menyebut, langkah perusahaan rintisan menggunakan kendaraan listrik sejalan dengan mulai banyaknya investor mencari perusahaan yang menerapkan ekonomi hijau.

"Secara bisnis ini akan menguntungkan, karena berpengaruh perolehan dana dari investor," ujarnya, Selasa (22/2/2022).

Selain itu, menurut Huda, konsumen juga mulai tertarik ke produk yang ramah lingkungan, termasuk moda transportasi bertenaga listrik.

"Terlebih jika berencana IPO, isu keberanjutan lingkungan dan ekosistem ekonomi hijau, menurut saya akan membantu langkah melantai di bursa," ujarnya.

Selain itu, upaya merambah industri ramah lingkungan juga membuka peluang untuk memperbesar eksosistem bisnis dan memungkinkan startup berkolaborasi dengan entitas yang beragam.

Huda berharap, komitmen dua startup Gojek dan Grab untuk mulai merambah ke motor listrik akan memberikan stimulus ke produsen otomotif besar untuk juga melakukan produksi motor listrik.

Koordinator Pusat Inovasi dan Inkubator Bisnis Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Dianta Sebayang menyebut, penggunaan motor listrik oleh para startup adalah salah satu cara para unikorn dan dekakorn untuk berinvestasi pada produk high tech dan future product.

"Menurut saya itu karena sebagai aplikasi super mereka punya tekanan untuk terus berada di garis terdepan dalam pertarungan bisnis teknologi," ujarnya.

Menurut Dianta, kendaraan listrik akan menjadi kewajiban dalam beberapa tahun ke depan. Para startup menilao saat ini adalah waktu yang tepat untuk masuk ke industri motor listrik, mengingat pasar yang masih terbuka lebar.

"Ini upaya untuk jadi pelopor, seoalah-olah yang terdepan. Pendekatan industri ramah lingkungan ini juga dilakukan oleh perusahaan teknologi global yang lain, seperti Apple dan Xiaomi," ujar Dianta.

Sebelumnya, Electrum, perusahaan patungan Gojek dan TBS Energi Utama (TBS), bersama Pertamina, Gogoro, dan Gesits, bersinergi untuk mengakselerasi pengembangan ekosistem kendaraan listrik terintegrasi.

Dengan itu Gojek telah mengoperasikan 500 motor listrik dan menargetkan penambahan ribuan unit pada akhir 2022. Selain itu pada 2030 mendatang, Gojek menargetkan 100 persen armadanya telah menggunakan motor listrik.

Sementara itu, menurut pantauan Bisnis, Rabu (29/12/20221), Grab, salah satu pesaing kuat Gojek, telah memiliki armada kendaraan listrik berjumlah 12.000 unit pada akhir 2021.

Adapun, Sicepat, perusahaan rintisan di sektor logistik juga melakukan pembelian 10.000 unit motor listrik dari Volta.

Gojek dan Grab merupakan perusahaan yang terkenal dengan armada kendaraann bermotor. Menurut data Statista pada 2021 lalu, Gojek menguasai 42 persen pangsa pasar ride-hailing di Indonesia. Sementara itu, sisanya sekitar 58 persen dikuasai oleh pesaingnya asal Singapura, Grab.

Dikutip dari laman resmi Kemenperin, pemerintah menargetkan produksi kendaraan listrik berbasis baterai pada tahun 2030 dapat mencapai 600 ribu unit untuk roda 4 atau lebih, serta 2,45 juta unit untuk roda 2.

Produksi kendaraan listrik diharapkan mampu menurunkan emisi CO2 sebesar 2,7 juta ton untuk roda 4 atau lebih dan sebesar 1,1 juta ton untuk roda 2. Hal itu selaras denhan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 55 Tahun 2019 tentang Percepatan Progam Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai (Battery Electric Vehicle) untuk Transportasi Jalan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

StartUp Sepeda Motor Listrik
Editor : Rio Sandy Pradana

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

To top