Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Amazon Vs. Alibaba di RI, Teknologi jadi Nilai Tawar dalam Investasi

Ongkos operasional perusahaan rintisan hampir 50 persen dihabiskan untuk menyimpan dan mengelola data. Tingginya kebutuhan perusahaan teknologi terhadap hal itu menjadi peluang bagi Amazon dan Alibaba untuk masuk ke perusahaan teknologi di Indonesia, dan mengakuisisi sebagian saham mereka, yang kemudian ditafsirkan sebagai investasi. 
Leo Dwi Jatmiko
Leo Dwi Jatmiko - Bisnis.com 31 Oktober 2021  |  21:50 WIB
Jeff Bezos, CEO Amazon.  - Bloomberg
Jeff Bezos, CEO Amazon. - Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA — Pangkalan data dan teknologi mumpuni menjadi modal perusahaan teknologi seperti Alibaba dan Amazon dalam berinvestasi ke Tanah Air. Diprediksi mereka akan terus berinvestasi hanya saja dalam bentuk barang. 

Ketua Umum Indonesian Digital Empowering Community (IDIEC) M. Tesar Sandikapura memperkirakan investasi yang digelontorkan oleh Amazon dan Alibaba ke Indonesia dan perusahaan rintisan dalam negeri akan makin banyak ke depan. Hanya saja, investasi yang digelontorkan tidak selalu berbentuk uang.

Tesar mengatakan secara infrastruktur, selain memiliki pangkalan data di luar negeri dan layanan komputasi awan, Amazon dan Alibaba memiliki pangkalan data di dalam negeri. 

Kapasitas yang terdapat di pangkalan data tersebut yang nantinya akan diberikan atau dihitung sebagai investasi. Selain itu, investasi juga dapat berupa solusi teknologi yang mereka miliki.

“Alibaba dan Amazon membuat teknologi penyimpanan sendiri yang tidak bisa dihasilkan oleh perusahaan dalam negeri sehingga para perusahaan teknologi lebih tertarik menggunakan layanan Alibaba dan Amazon,” kata Tesar, Minggu (31/10/2021). 

Tesar mengatakan saat perusahaan teknologi memasuki tahap awal, di mana transaksi dan lalu lintas data masih sedikit, masih dapat menggunakan layanan pangkalan data milik pemain lokal. Hanya saja, ketika transaksi dan lalu lintas data sudah mencapai jutaan jumlahnya seperti unikorn, maka perusahaan teknologi membutuhkan perusahaan pangkalan data yang lebih berpengalaman dengan teknologi keamanan yang telah teruji. 

Sejauh ini Amazon dan Alibaba menjadi dua perusahaan teknologi yang memiliki kriteria tersebut menurut Tesar. 

“Alibaba dan Amazon pasti menang dalam hal teknologi. Mereka memiliki teknologi yang lebih hebat. Jadi mereka percaya diri bakal menang pada waktunya,” kata Tesar. 

Tesar menuturkan ongkos operasional perusahaan rintisan hampir 50 persen dihabiskan untuk menyimpan dan mengelola data. Tingginya kebutuhan perusahaan teknologi terhadap hal itu menjadi peluang bagi Amazon dan Alibaba untuk masuk ke perusahaan teknologi di Indonesia, dan mengakuisisi sebagian saham mereka, yang kemudian ditafsirkan sebagai investasi. 

“Istilahnya menyetor modal tidak dalam bentuk uang tunai (inbreng). Pemain pangkalan datang memberikan akses kepada perusahaan teknologi Indonesia,” kata Tesar. 

Tesar mengatakan strategi tersebut telah diterapkan oleh Google saat berinvestasi ke Gojek pada Juni 2020. Saat itu, Google bersama dengan Tencent, Facebook, dan Paypal. Itu merupakan kali kedua setelah sebelumnya Google berinvestasi senilai US$1 miliar ke Gojek. 

Tesar menduga salah satu tawaran Google saat itu adalah pemanfaatan sejumlah aplikasi di Google dengan gratis atau biaya terjangkau, yang membuat layanan Gojek makin optimal. 

Cara serupa Tesar perkirakan akan terus terjadi oleh raksasa-raksasa teknologi global yang beroperasi di dalam negeri. 

“Notifikasi yang muncul di layar gawai itu bisa dibuat sendiri, hanya saja tidak akan sehebat Google dan raksasa teknologi lainnya. Mahal harga layanannya, per hit sekian dollar,” kata Tesar. 

Sebelumnya, Alibaba dan Amazon terus menguatkan posisi masing-masing di Indonesia  dengan melakukan beragam investasi. 

Dalam bisnis pangkalan data, Amazon membangun pangkalan data dengan nilai Rp40 triliun di Jawa Barat. Pangkalan data Amazon ditargetkan beroperasi pada akhir 2021 atau awal 2022. 

Sementara itu, Alibaba mengungkapkan akan melakukan ekspansi ke Filipina, Singapura dan Indonesia. 

Alibaba melalui Alibaba Cloud sendiri telah memiliki 3 data center di Indonesia yang dibangun pada 2018, 2019, dan 2021. 

Selain infrastruktur, keduanya juga terlibat dalam pendanaan di perusahaan rintisan. Pada Agustus 2017, Alibaba berinvestasi Rp15,2 triliun kepada Tokopedia. Sementara pendiri Amazon Jeff Bezos investasi ke startup dagang-el. Beberapa bank digital dan operator seluler juga dikabarkan tidak luput dari rencana investasi kedua perusahaan teknologi tersebut. 

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

data center StartUp amazon.com alibaba
Editor : Muhammad Khadafi

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper
To top