Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

5G Masih 5 Tahun Lagi? Transformasi Digital Jokowi Ambyar!

Pengamat menilai transformasi digital yang menjadi ambisi Jokowi berisiko ambyar jika teknologi 5G baru digelar 5 tahun lagi.
Leo Dwi Jatmiko
Leo Dwi Jatmiko - Bisnis.com 17 Februari 2021  |  12:20 WIB
Ilustrasi teknologi 5G. - REUTERS/Yves Herman
Ilustrasi teknologi 5G. - REUTERS/Yves Herman

Bisnis.com, JAKARTA – Pengamat telekomunikasi menilai 5 tahun merupakan waktu yang terlalu lama untuk menghadirkan teknologi 5G. Keterlambatan kehadiran 5G dapat menggagalkan ambisi Presiden Joko Widodo dalam mendorong transformasi digital di Indonesia.

Direktur Eksekutif ICT Institute Heru Sutadi mengatakan pemerintah memiliki peran penting dalam mendorong adopsi 5G di Tanah Air. Seandainya pemerintah memperbolehkan penggunaan 5G, maka operator seluler akan mulai mengembangkan teknologi terbaru tersebut dan akan terjadi kompetisi antaroperator dalam menghadirkan 5G seperti dahulu.

Heru menceritakan saat era adopsi 3G dan 4G, XL dan Telkomsel berusaha menjadi yang terdepan mengadopsi teknologi tersebut. Kompetisi adopsi teknologi pun berjalan cepat.

Adapun jika 5G baru digelar sekitar 2023-2025, menurut Heru hal tersebut sudah sangat terlambat. Indonesia akan tertinggal dengan negara-negara lain yang sudah mengadopsi 5G.

“Kebutuhan akses internet cepat sebagaimana terlihat di masa pandemi tidak terpenuhi dan transformasi digital yang digaungkan Presiden Joko Widodo bisa ambyar alias gagal,” kata Heru kepada Bisnis.com, Rabu (17/2/2021).

Heru berpendapat 5G akan hadir di Indonesia sekitar 2 tahun lagi, menunggu kesiapan spektrum frekuensi. Menurutnya 5G hadir di pita 700 MHz, setelah siaran analog dipadamkan dan dialihkan ke digital (analog switch off/ASO).

“Frekuensi 3,5 MHz sudah diujicoba juga dipakai bersama 5G dan satelit. Tinggal gongnya saja,” kata Heru.

Sekadar catatan, pemerintah sempat membentuk satuan tugas yang fokus mengkaji mengenai 5G. Tugas Satgas 5G adalah mematangkan sejumlah rencana agar 5G dapat tiba ke Indonesia, termasuk menyusun peta jalan dan alternatif frekuensi untuk 5G.

Dalam dokumen yang diterima Bisnis, disebutkan bahwa Indonesia membutuhkan frekuensi sekitar 1.882 MHz untuk layanan internet bergerak cepat (4G/5G). Frekuensi tersebut nantinya akan terbagi dalam dua lokasi frekuensi yaitu 959 MHz di frekuensi rendah (1 GHz- 6 GHz) dan 923 MHz pada frekuensi tinggi di atas 24 Ghz.

Untuk mewujudkan hal tersebut, gugus tugas menyiapkan peta jalan 5G untuk 5 tahun ke depan. Adapun pada tahun ini, frekuensi 2,3 GHz menjadi salah satu kandidat frekuensi yang akan digunakan untuk 5G.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Jokowi teknologi 5G
Editor : Rio Sandy Pradana

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top