Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Sewa Jaringan MRT, Renegosiasi Operator Seluler Bakal Alot

Renegosiasi sewa jaringan yang dilakukan operator seluler terhadap MRT Jakarta seiring dengan sepinya jumlah penumpang transportasi massal tersebut bakal alot.
Leo Dwi Jatmiko
Leo Dwi Jatmiko - Bisnis.com 18 Januari 2021  |  17:20 WIB
Penumpang berada di dalam MRT Jakarta, di Jakarta, Senin (6/4/2020). Pasca diterbitkannya Permenkes tentang Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dalam rangka Percepatan Penanganan COVID-19, moda transportasi MRT, KRL, LRT, dan Transjakarta mulai dilakukan pembatasan armada dan jam operasional. ANTARA FOTO - Muhammad Adimaja
Penumpang berada di dalam MRT Jakarta, di Jakarta, Senin (6/4/2020). Pasca diterbitkannya Permenkes tentang Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dalam rangka Percepatan Penanganan COVID-19, moda transportasi MRT, KRL, LRT, dan Transjakarta mulai dilakukan pembatasan armada dan jam operasional. ANTARA FOTO - Muhammad Adimaja

Bisnis.com, JAKARTA – Upaya operator seluler dalam melakukan renegosiasi dengan PT MRT Jakarta diyakini tidak berjalan mulus mengingat operator moda transportasi berbasis rel tersebut juga membutukan tambahan pendapatan.

Direktur Eksekutif ICT Institute Heru Sutadi mengatakan kerja sama yang terjalin antara operator seluler dengan pengelola MRT adalah dalam bentuk sewa penempatan perangkat telekomunikasi sepanjang jalur bawah tanah MRT. Meski nilai sewanya sangat mahal, sejumlah operator justru menyanggupi sehingga harga mahal tersebut terus terjadi.

“Memang masa pandemi harusnya ada rasionalisasi tarif sewa, tetapi mungkin dari cara pandang operator MRT juga ini pendapatan yang tidak boleh kurang bahkan harus bertambah karena penumpang turun sehingga ini juga jadi pendapatan tambahan,” kata Heru kepada Bisnis.com, Senin (18/1/2021).

Sekadar informasi, saat MRT mulai beroperasi pada 2019, pengelola menetapkan harga sewa perangkat pasif di enam stasiun bawah tanah senilai Rp3,5 miliar hingga Rp4 miliar per operator untuk kapasitas sebesar 600 Mbps. Tarif tersebut hanya berlaku untuk dua tahun pertama.

Sementara itu, Ketua Pusat Studi Kebijakan Industri dan Regulasi Telekomunikasi Indonesia-ITB Ian Yosef M. Edward berpendapat operator akan melakukan negosiasi dengan pengelola MRT, seiring dengan sepinya jumlah pengguna.

Pembahasan negosiasi diperkirakan akan berkutat pada penyesuaian lalu lintas data operator seluler pada 2020, dengan ekspetasi lalu lintas data pada awal perjanjian.

“Yang pasti dengan berkurangnya penumpang dan pembatasan jam, maka lalu lintas yang dihitung pada saat kontrak berbeda kondisi pada saat 2000, maka wajar untuk 2021 ada kompensasi,” kata Ian.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

mrt telekomunikasi
Editor : Rio Sandy Pradana

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top