Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Jaringan 5G Indonesia Pakai Frekuensi 2,3 GHz Dinilai Tepat

Pemanfaatan frekuensi 2,3 GHz untuk penyelenggaraan jaringan 5G dinilai tepat mengingat lelang pita frekuensi lainnya masih belum jelas.
Leo Dwi Jatmiko
Leo Dwi Jatmiko - Bisnis.com 27 Desember 2020  |  17:03 WIB
Seorang wanita mengoperasikan ponselnya di dekat logo teknologi 5G. - REUTERS/Sergio Perez
Seorang wanita mengoperasikan ponselnya di dekat logo teknologi 5G. - REUTERS/Sergio Perez

Bisnis.com, JAKARTA – Implementasi 5G pada tahun depan melalui pita frekuensi 2,3 GHz dinilai sudah tepat. Pemadaman siaran analog (analog switch off/ASO) di pita 700 MHz pada November 2022 masih menjadi misteri, begitu pun dengan waktu pemanfaatan 2,6 GHz dan 3,5 GHz untuk 5G.

Ketua Program Studi Magister Teknik Elektro ITB, Ian Yosef M. Edward mengatakan bahwa penggelaran 5G di pita 2,3 GHz akan memberi manfaat kepada operator seluler.

Meski frekuensi yang digunakan secara mandiri relatif lebih kecil, yaitu 40 MHz dari batas optimal 100 MHz, untuk menggelar 5G secara teknis sudah tercukupi. Alhasil, secara valuasi operator tersebut akan meningkat karena memegang predikat operator pertama yang gelar 5G.

“Sebagai operator dengan 5G pertama harusnya pelanggan lari ke mereka,” kata Ian kepada Bisnis.com, Minggu (27/12/2020).

Ian berpendapat bahwa penggelaran 5G di pita frekuensi lainnya masih belum jelas. Oleh sebab itu, kehadiran 5G di pita 2,3 GHz sudah tepat ditengah ketidakpastian lelang frekuensi 5G selanjutnya.

Saat ini terdapat 3 kandidat kuat frekuensi 5G di luar dari 2,3 GHz yaitu 700 MHz, 2,6 GH dan 3,5 GHz. Ketiganya masih memiliki tantangan sebelum dilelang untuk 5G.

Pita frekuensi radio 700 MHz yang rencananya memiliki digital dividen sebesar 112 MHz hasil dari peralihan siaran analog ke digital (ASO), saat ini masih dalam tahap persiapan.

Meski ASO ditargetkan rampung pada November 2022, risiko untuk mundur masih terbuka. Bagi lembaga penyiaran swasta, ASO membutuhkan tambahan investasi untuk sewa atau membangun infrastruktur, di sisi lain belum seluruh masyarakat Indonesia memiliki televisi yang mendukung siaran digital.

Sementara itu, 3,5 GHz dan 2,6 GHz keduanya masih dihuni oleh operator satelit. Di pita ini pilihannya ada 2 yaitu mengalihkan operator satelit ke pita frekuensi yang lebih tinggi atau hidup berdampingan dengan syarat tidak boleh mengganggu layanan satelit. Keduanya membutuhkan modal besar.

“Frekuensi yang lainnya belum jelas, 3,5 GHz ada extended C-Band, harus bicara dahulu dengan operator satelit, jika dirugikan seperti apa solusinya? Mau ganti rugi berapa? Ada satelit perbankan juga,” kata Ian.

Dia mengatakan untuk berjalan bersama antara satelit dan seluler di pita 3,5 GHz membutuhkan filter frekuensi yang sangat bagus, dengan harga yang mahal yang akan dipasang di masing-masing BTS.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

telekomunikasi teknologi 5G
Editor : Rio Sandy Pradana

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top