Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Ini Alasan Bisnis Komputasi Awan Makin Masif Tahun Depan

Asosiasi Cloud Computing Indonesia (ACCI) menjelaskan beberapa alasan yang membuat bisnis komputasi awan makin masif pada 2021.
Akbar Evandio
Akbar Evandio - Bisnis.com 03 Desember 2020  |  10:34 WIB
Ilustrasi - Canadian Cloud Backup
Ilustrasi - Canadian Cloud Backup

Bisnis.com, JAKARTA – Asosiasi Cloud Computing Indonesia (ACCI) optimis adopsi komputasi awan makin masif pada 2021.

Sekretaris Jenderal ACCI Fanky Christian mengatakan bahwa ragam sektor mulai mempertimbangkan penggunaan komputasi awan (cloud computing), termasuk pemerintah. Hal ini sejalan dengan akselerasi digital yang tengah diupayakan pemerintah saat ini.

“Semua sektor mulai mempertimbangkan cloud termasuk pemerintah. [Adapun] penting bagi pemerintah dan penyedia layanan untuk sosialisasi penggunaan dan keamanan cloud [cloud strategy], termasuk urgensi UU PDP [Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi],” katanya, Rabu (2/12/2020).

Sebelumnya, perusahaan konsultan manajemen global, Boston Consulting Group (BCG) melalui surveinya per November 2020 menyebutkan 74 persen pelaku usaha menilai isu keamanan dan data privasi masih menjadi penghalang utama dalam penerapan komputasi awan.

Adapun isu lainnya seperti regulasi, keterbatasan anggaran untuk IT, permasalahan teknis yang kompleks, vendor dan lain sebagainya menempati urutan permasalahan selanjutnya.

Fanky pun sepakat, dia mengatakan bahwa semua perusahaan tengah mempertimbangkan adopsi cloud ke depan, tetapi poin lain yang perlu diperhatikan adalah penggunaan public cloud.

Public cloud yang harus mereka perhatikan benar-benar. Selain itu banyak yang memilih hybrid dan bahkan membangun private cloud-nya sendiri. Cloud awareness tetap harus kita bangun bersama,” katanya.

Lebih lanjut, dia menjelaskan bahwa public cloud yang dimaksudkan adalah kebanyakan penyedia belum memiliki pangkalan data di Indonesia, sehingga sebagai perusahaan harus memperimbangkan zona awan (cloud zone) yang akan diterapkan.

“Bila data sensitif maka pertimbangkan lakukan penetrasi test [pentest] terhadap aplikasi dan data yg disimpan di cloud. Pastikan cloud provider comply ke aturan yang ada dari pemerintah [PSE/Penyelenggara Sistem Elektronik],” ujarnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

teknologi cloud computing
Editor : Rio Sandy Pradana
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top