Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

ASSI : Satelit Asing Masuk, Harga Layanan Kian Murah

Ketua Umum Asosiasi Satelit Indonesia Hendra Gunawan menilai bahwa kehadiran satelit asing juga membuat persaingan di industri makin ketat.
Leo Dwi Jatmiko
Leo Dwi Jatmiko - Bisnis.com 23 Januari 2020  |  08:28 WIB
Ilustrasi Satelit Nusantara Satu. - Pasifik Satelit Nusantara
Ilustrasi Satelit Nusantara Satu. - Pasifik Satelit Nusantara

Bisnis.com, JAKARTA - Laju kebutuhan data yang makin pesat di daerah terestrial, mendesak pemerintah menghadirkan satelit baru atau bekerja sama dengan satelit asing untuk memenuhi kebutuhan. Di lain sisi, hadirnya pemain asing justru membuat harga layanan satelit makin murah.

Ketua Umum Asosiasi Satelit Indonesia (ASSI) Hendra Gunawan menilai bahwa kehadiran satelit asing juga membuat persaingan di industri makin ketat. Dampaknya, tarif layanan yang diberikan kepada pelanggan menjadi makin murah. 

“Teknologi baru dan banyaknya satelit asing berkontribusi besar terhadap penurunan harga,” katanya kepada Bisnis.com, Rabu (22/1/2020). 

Sekedar catatan, Studi dari Lembaga riset satelit global, Northern Sky Research, kebutuhan kapasitas satelit di Indonesia dan sekitarnya untuk 2019 diperkirakan mencapai 600 transporder-700 transponder untuk satelit konvensional, dan 55 Gbps untuk high throughput satellite (HTS). 

Adapun suplai kapasitas satelit Indonesia pada tahun yang sama hanya sekitar 225 transponder satelit nasional (ekivalen sekitar 16 Gbps) dan penggunaan satelit asing sebanyak 100 transponder. 

Di samping itu, terdapat kebutuhan 55 Gbps untuk aplikasi satelit HTS di Indonesia pada 2019, namun yang tersedia hanya 12 Gbps suplai dari satelit nasional.

Pertumbuhan tersebut diprediksi akan terus naik pada kisaran 14 persen per tahun hingga 2030, yang mengikuti pertumbuhan kebutuhan lalu lintas data/broadband nasional, khususnya untuk melayani kebutuhan Teknologi Informasi dan Komunikasi di wilayah-wilayah yang belum terjangkau terrestrial. 

Sementara itu, pertumbuhan rata-rata kapasitas satelit nasional hanya 5 persen per tahun. Hal ini memaksa Indonesia menggunakan jasa satelit asing untuk memberikan akses di tanah air. 

Hendra mengatakan bahwa meski Indonesia memiliki Satelit Multifungsi yang khusus untuk internet, kapasitas yang dibawa belum mencukupi. 

Kapasitas satelit hanya digunakan untuk mendukung kegiatan pemerintah. Sedangkan di luar kegiatan pemerintah masih membutuhkan satelit tambahan. 

Dia mengatakan untuk memenuhi kapasitas yang masih banyak, perkembangan teknologi dapat diandalkan sebagai alternatif, di luar menghadirkan satelit asing. 

“Perkembangan teknologi baru baik High Throughput Satellite maupun Low Earth Orbit [LEO] satelit dapat menjadi alternatif untuk memenuhi kebutuhan kapasitas,” kata Hendra. 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

kominfo satelit
Editor : Hendra Wibawa
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top