Perang Harga Layanan Jadi Tantangan Industri Satelit Dalam Negeri

Sejumlah tantangan menanti industri satelit dalam negeri pada tahun ini yang mengerucut pada perang harga layanan.
Leo Dwi Jatmiko
Leo Dwi Jatmiko - Bisnis.com 15 Januari 2020  |  11:58 WIB
Perang Harga Layanan Jadi Tantangan Industri Satelit Dalam Negeri
Peluncuran satelit Telkom-3 - youtube/arianespace.com

Bisnis.com, JAKARTA - Sejumlah tantangan menanti industri satelit dalam negeri pada tahun ini yang mengerucut pada perang harga layanan.

Ketua Umum Asosiasi Satelit Indonesia (ASSI) Hendra Gunawan mengatakan bahwa tantangan saat ini adalah harga layanan yang makin murah seiring dengan perkembangan teknologi dan kehadiran pemain satelit asing yang juga memberi layanan kepada perusahaan lokal.

Hadirnya  high throughput satellites (HTS) atau satelit multifungsi membuat harga layanan data per GB makin murah karena HTS dikhususkan untuk memberikan akses data. Berbeda dengan satelit konvensional yang diluncurkan untuk memberikan layanan secara umum dan tidak terfokus ke data internet saja.

Terkait perang harga tersebut, pemain satelit  asing kerap memberikan harga layanan yang lebih murah dibandingkan dengan pemain satelit lokal.

Berdasarkan data Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo), per Januari 2020 jumlah satelit yang memenuhi syarat hak labuh di Indonesia sebanyak 50 unit. Dari angka tersebut, hanya 6 satelit yang merupakan pemain dalam negeri.    

“Teknologi itu kan membawa penurunan biaya [operasional] sehingga harga layanan juga makin turun, tetapi tidak semua layanan bisa diatasi oleh satelit HTS, seperti penyiaran,” kata Hendra kepada Bisnis, Selasa (14/1/2020).

Mengenai evaluasi 2019, Hendra mengatakan bahwa hingga kuartal III/2019, layanan satelit masih menjadi kontributor pendapatan terbesar bagi industri satelit di Indonesia, melebihi sektor pengoperasian satelit dan sektor stasiun bumi. Hanya saja, Hendra belum dapat menyebutkan angka pertumbuhannya karena masih menunggu laporan keuangan tahunan.

Sementara itu, industri satelit dalam negeri diprediksi akan tumbuh moderat pada tahun ini, ditopang oleh layanan konektivitas yang diberikan oleh operator kepada pelanggan.

Laporan Euroconsult 2019 yang berjudul “Space Economy Report” menyebutkan bahwa industri satelit global – termasuk Indonesia – akan tumbuh moderat sekitar 5% per tahun sampai 2028.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
satelit, telekomunikasi

Editor : Lucky Leonard
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top