Kurangi Konten Bermasalah, Ini Pendekatan Terbaru Youtube

YouTube baru saja mengumumkan beberapa pendekatan terbarunya sebagai upaya untuk mendapatkan kepercayaan pengguna.
Rahmad Fauzan
Rahmad Fauzan - Bisnis.com 28 Agustus 2019  |  18:09 WIB
Kurangi Konten Bermasalah, Ini Pendekatan Terbaru Youtube
Youtube

Bisnis.com, JAKARTA — YouTube baru saja mengumumkan beberapa pendekatan terbarunya sebagai upaya untuk mendapatkan kepercayaan pengguna serta membantah asumsi yang mengatakan bahwa perusahaan ragu untuk mengambil tindakan terhadap konten yang bermasalah karena konten-konten tersebut dinilai menguntungkan.

CEO YouTube, Susan Wojcicki, dalam surat triwulanan ketiganya kepada para kreator yang diterbitkan Rabu (28/8/2019), menggarisbawahi bahwa asumsi tersebut ini tidak benar, dan pada kenyataannya, akibat dari tidak diambilnya tindakan yang memadai dalam jangka panjang menyebabkan kurangnya kepercayaan dari pengguna, pengiklan, dan kreator.

"Kami ingin mendapatkan kepercayaan itu.Ini sebabnya kami telah mencurahkan banyak upaya selama beberapa tahun terakhir dalam tim dan sistem yang melindungi YouTube,' ujar Wojcicki dalam suratnya yang diterima Bisnis.com, Rabu (28/8/2019).

Dia menambahkan, sejauh ini hanya terdapat kurang dari 1% konten bermasalah di YouTube. Namun, jumlah yang sangat kecil tersebut dinilai memiliki dampak yang sangat besar, baik sebagai potensi bahaya bagi pengguna, maupun hilangnya kepercayaan pada model terbuka yang memungkinkan munculnya komunitas kreatif.

Berikut pendekatan-pendekatan yang dilakukan Youtube;

Pertama, perusahaan menghapus konten yang melanggar kebijakan secepat mungkin dan selalu berusaha untuk membuat kebijakan yang lebih jelas dan lebih efektif, seperti yang telah dilakukan terhadap konten lelucon (pranks) dan tantangan, keselamatan anak, dan ujaran kebencian (hate speech) pada tahun ini.

"Kami berusaha untuk betul-betul memikirkan pembaruan ini dan berkonsultasi dengan berbagai pakar untuk menyampaikan pemikiran, misalnya kami berbicara dengan puluhan ahli saat memperbarui kebijakan ujaran kebencian (hate speech)," imbuhnya.

Dia menambahkan, Youtube juga melaporkan penghapusan yang dilakukan dalam laporan triwulan penegakan Pedoman Komunitas dan menghargai pemberitahuan dari kreator tentang kebijakan yang tidak sesuai bagi komunitas kreator.

Adapun, satu hal yang sudah memerlukan pembaruan adalah terkait pelecehan yang

dilakukan kreator kepada kreator lainnya. Hal tersebut sudah disampaikan oleh Wojcicki bahwa perusahaan sedang melakukan peninjauan dan akan mengumumkan hasilnya dalam beberapa bulan mendatang.

Kedua, Youtube mengedepankan sumber berita resmi untuk pengguna yang mencari berita atau informasi, khususnya selama momen berita penting terbaru. Adapun, galeri berita penting dan berita utama Youtube tersedia di 40 negara dan kami terus memperluasnya.

Ketiga, Youtube mengurangi penyebaran konten yang hampir melanggar kebijakan.

Perusahaan dikatakan sudah melakukannya di Amerika Serikat dengan melakukan perubahan pada rekomendasi awal tahun ini, di mana penayangan konten jenis tersebut turun 50%.

"Dengan kata lain, konten berkualitas memiliki peluang lebih besar untuk lebih menonjol. Kami mulai mencoba perubahan ini di Inggris Raya, Irlandia, Afrika Selatan, dan pasar lainnya yang menggunakan bahasa Inggris," kata Wojcicki.

Keempat, Youtube menetapkan standar yang lebih tinggi tentang channel mana yang dapat menghasilkan uang di situs  dan hanya memberi reward kepada kreator yang layak dan tepercaya. Dikatakan, tidak semua konten yang diizinkan di YouTube cocok dengan pengiklan.

Dengan demikian, Youtube harus yakin bahwa pengiklan merasa nyaman dengan konten yang menampilkan iklan mereka. Hal tersebut kemudian menjadi alasan perusahaan mengaktifkan aliran pendapatan baru untuk kreator seperti Super Chat dan Langganan (Membership).

Ribuan channel YouTube dilaporkan telah meraih pendapatan dua kali lipat sejak menggunakan fitur baru tersebut, sebagai tambahan dari iklan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
youtube

Editor : Wike Dita Herlinda

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top