Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Startup Kopi Indonesia Berpotensi Ganggu Dominasi Starbucks

Ekspansi Fore Coffee dan Kopi Kenangan bisa saja menganggu dominasi Starbucks di Indonesia. Hal itu bisa mengulang kenangan buruk Starbucks di China.
Oliv Grenisia & Surya Rianto
Oliv Grenisia & Surya Rianto - Bisnis.com 01 Juli 2019  |  17:53 WIB
Starbucks.  -  Ilham Mogu
Starbucks. - Ilham Mogu

Bisnis.com, JAKARTA -- Starbucks Indonesia harus siap-siap menerima tantangan dari dua startup kopi Indonesia. Serangan Luckin Coffee di China harus menjadi pelajaran kedai kopi asal Amerika Serikat itu untuk segera berinovasi di negara lain.

Dua startup kopi asal Indonesia yakni, Fore Coffee dan Kopi Kenangan siap menganggu dominasi Starbucks di Indonesia. Apalagi, dua startup itu juga sudah disuntik modal dari investor demi bisa ekspansi lebih jauh lagi.

Teranyar, Kopi Kenangan baru mendapatkan pendanaan terbaru senilai US$20 juta atau setara Rp283,6 juta. [kurs US$1 = Rp14.180]

Dana itu digunakan untuk rencana ekspansi ke Negeri Jiran seperti, Malaysia, Vietnam, Thailand, dan Singapura.

Sebelumnya, Kopi Kenangan juga mendapatkan pendanaan dari Alpha JWC Ventures senilai US$8 juta pada Oktober 2018. Dana itu digunakan untuk pengembangan aplikasi yang akhirnya dirilis pada April 2019.

Saat ini, aplikasi Kopi Kenangan sudah diunduh lebih dari 5.000 kali dengan rating 4.

Kopi Kenangan didirikan pada 2017 dengan modal awal Rp150 juta. Berawal dari 8 gerai, saat ini Kopo Kenangan sudah mencapai 80 gerai di 8 kota.

Startup Kopi itu menargetkan bisa memperluas jaringannya menjadi 150 gerai pada tahun ini. Lalu, mimpi besar Kopi Kenangan menargetkan bisa kejar 1.000 gerai di seluruh Indonesia pada 2021.

starbucks

Karakter kopi kenangan adalah es kopi gula aren. Startup itu ingin menjadi penengah di antara kesenjangan kedai kopi waralaba internasional yang mahal dengan kopi pinggir jalan yang murah.

Selain Kopi Kenangan, Fore Coffee juga tengah agresif untuk ekspansi. Startup kopi itu mendapatkan pendanaan dari konsorsium East Ventures, SMDV, Pavilion Capital Agaeti Venture Capital, Insignia Ventures Partners, dan angle investor lainnya senilai US$8,5 juta pada Januari 2019.

Dana itu digunakan Fore Coffee untuk mempercepat inovasi online to offline customer experience.

Sebelumnya, Fore Coffee adalah startup kopi yang merupakan hasil inkubasi East Ventures. Misi Fore Coffee adalah memudahkan konsumen untuk mendapatkan minuman kopi yang berkualitas.

starbucks

Saat ini, Fore Coffee mengklaim sudah memiliki 35 gerai di Jakarta. Sampai akhir Juni 2019, Fore Coffee menargetkan bisa menambah jaringan hingga 100 gerai.

Untuk aplikasi FOre Coffee saat ini sudah diunduh sekitar 100.000 kali dengan rating sebesar 4,5.

Di sisi lain, Starbucks Indonesia saat ini juga terus ekspansif. Dikutip dari laporan keuangannya, Starbucks Indonesia sudah tersebar di 370 gerai di 31 kota besar pada 2018. Jumlah gerainya tumbuh 15,62% dibandingkan dengan 2017.

Hal ini berarti dua startup kopi itu belum menganggu bisnis Starbucks Indonesia yang dikelola oleh PT MAP Boga Adiperkasa Tbk. melalui PT Sari Coffee Indonesia.

starbucks

Lalu, Starbucks Indonesia juga sudah memiliki aplikasi, tetapi hanya untuk pelanggan yang sudah terdaftar lewat kartu anggota. Jadi, sifat aplikasinya bisa dibilang masih tertutup di luar anggota.

Sampai perdagangan Kamis (01/07/2019), harga saham emiten berkode MAPB itu stagnan di level Rp1.745 per saham dengan kapitalisasi pasar Rp3,79 triliun dan P/E ratio 33,09 kali.

Belajar dari China

Pada Mei 2019, Starbucks China meluncurkan Starbucks Now. Fasilitas itu memberikan kemudahan kepada konsumen untuk memesan minuman dan makanan tanpa uang tunai.

Lalu, konsumen juga bisa mendapatkan informasi estimasi waktu pengiriman kopo dan memilih kedai Starbucks terdekat.

CEO Starbucks China Belinda Wong mengakui pihaknya cenderung tertinggal dari pesaingnya Luckin Coffee yang sudah melakukannya sejak awal 2018.

Fasilitas Starbucks Now itu memang baru diluncurkan pada 300 kedai di Beijing dan Shanghai. Pada 2020, Starbucks akan memperluas fasilitas itu ke 3.000 lokasi di China.

Luckin Coffee yang didirikan Oktober 2017 oleh Qian Zhiya menjadi startup kopi China yang menganggu penguasa pasar Starbucks.

Startup Kopi China itu menggunakan pendekatan on demand coffee. Dengan begitu, Luckin Coffee lebih efisien karena menjadikan gerai sebagai dapurnya.

Selain itu, Luckin Coffee juga bisa menjangkau konsumen lebih luas lewat teknologi aplikasi.

Persaingan antara Starbucks China dengan Luckin Coffee tidak hanya terjadi di lapangan jual-beli kopi, tetapi juga bursa saham Amerika Serikat.

Resmi melantai di Wall Street pada Mei 2019, Luckin Coffee menghimpun dana senilai US$561 juta. Dengan melantai bursa AS, Luckin Coffee seolah menantang Starbucks di sana.

Sampai perdagangan Kamis (01/07/2019), harga saham Starbucks anjlok 0,32% menjadi US$83,83 per saham dengan kapitalisasi pasar US$101,53 miliar dan P/E ratio 36,08%.

Lalu, saham Luckin Coffee naik 5,92% menjadi US$19,49 per saham dengan kapitalisasi pasar US$4,53 miliar.

Jika startup kopi itu bisa membuat Starbucks, sebagai waralaba kopi terbesar terganggu. Artinya, disrupsi teknologi bisa mengganggu bisnis konvensional, termasuk industri minuman kopi.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

starbucks
Editor : Surya Rianto
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top