Jadi Target Ketiga dalam Ancaman Siber, Pemerintah Didorong Prioritaskan Regulasi Proteksi Data

Sejumlah kalangan seperti akademisi dan pengamat mendorong pemerintah untuk memprioritaskan regulasi proteksi data untuk menangkal ancaman siber. Pasalnya, ancaman kebocoran data dalam konteks keamanan dunia maya di Indonesia kembali menjadi sorotan khusus.
Rahmad Fauzan
Rahmad Fauzan - Bisnis.com 27 Juni 2019  |  18:59 WIB
Jadi Target Ketiga dalam Ancaman Siber, Pemerintah Didorong Prioritaskan Regulasi Proteksi Data
Ilustrasi kejahatan siber. - Reuters/Kacper Pempel
Bisnis.com, JAKARTA -- Sejumlah kalangan seperti akademisi dan pengamat mendorong pemerintah untuk memprioritaskan regulasi proteksi data untuk menangkal ancaman siber. Pasalnya, ancaman kebocoran data dalam konteks keamanan dunia maya di Indonesia kembali menjadi sorotan khusus.
 
Berdasarkan laporan Check Point, Software Technologies Inc., Indonesia saat ini menjadi negara ketiga paling ditarget dalam ancaman siber setelah Amerika Serikat dan India. Adapun, jika dilihat dari secara sektoral, industri finansial atau keuangan menjadi sektor yang paling rentan terhadap ancaman siber.
 
Agus F Abdillah, Chief of Product & Sevice Officer Telkomtelstra, menilai tantangan utama bagi korporasi di Indonesia dalam mengelola keamanan siber terletak pada kemampuan dalam mendeteksi serta merespons secara efektif pelanggaran kebocoran data pada waktu yang tepat, serta pengeluaran yang tidak terencana dalam implementasi siber sekuriti.
 
Investasi yang diperlukan untuk keamanan siber perusahaan tentunya dapat menyebabkan dilema biaya untuk menghindari pengeluaran yang sangat besar dalam melindungi sistem dari ancaman siber, terutama dari pelanggaran kebocoran data
 
Dia mengatakan alokasi investasi untuk siber sekuriti, terutama untuk mengatasi kebocoran data, sebaiknya dimulai dengan penilaian security intelligence yang holistik serta komprehensif.
 
"Setelah semua ancaman dan kerentanan didaftar dan diprioritaskan, perusahaan dapat melanjutkan dengan pilihan investasi yang dikelola dengan benar untuk teknologi dan alat keamanan,” ujar Agus dalam keterangan resmi yang diterima Bisnis, Kamis (27/6).
 
Riset “Disruptive Decision Making” yang dilakukan oleh Telstra, perusahaan induk Telkomtelstra, memaparkan bahwa prioritas utama pemimpin bisnis global saat ini termasuk di antaranya melindungi aset digital dari ancaman dunia maya dan mengoptimalkan investasi untuk mengefisienkan waktu serta manajemen sumber daya sebagai bagian dari transformasi digital perusahaan
 
Security intelligence dalam kaitannya dengan keamanan siber bukanlah hal baru di industri global. Penerapannya sendiri berfokus pada wawasan berbasis bukti, termasuk mekanisme, indikator, implikasi, dan rekomendasi yang dapat ditindaklanjuti tentang ancaman atau bahaya yang ada atau dapat muncul terhadap aset perusahaan,” imbuhnya. 
 
Meski demikian, intelijen siber terdiri dari jutaan indikator yang perlu difilter dan diprioritaskan, sehingga selain teknologi, intelijen keamanan siber terbaik juga membutuhkan elemen talenta manusia yang ahli dalam masalah keamanan yang saat ini sulit ditemukan di Indonesia.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
keamanan siber

Editor : Andhika Anggoro Wening

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top
Tutup