Persaingan Pasar Gawai Kelas Menengah Kian Ketat

Persaingan di pasar gawai kelas middle-low Indonesia diramalkan semakin ketat pada 2019. Menurut pihak vendor, tren pasar tersebut terjadi karena beberapa hal, salah satunya adalah semakin seriusnya vendor dalam hal produksi.
Rahmad Fauzan | 23 Maret 2019 09:54 WIB

Bisnis.com, JAKARTA – Persaingan di pasar gawai kelas middle-low Indonesia diramalkan semakin ketat pada 2019. Menurut pihak vendor, tren pasar tersebut terjadi karena beberapa hal, salah satunya adalah semakin seriusnya vendor dalam hal produksi.

Salah satu pelaku pasar, Public Relations Manager Oppo Indonesia Aryo Meidianto menilai semakin ketatnya persaingan di pasar gawai dalam negeri membuat vendor-vendor tidak dapat sembarangan dalam membuat perangkat.

“Pasar low-end adalah kue empuk, untuk bertarung di sana kita enggak bisa sembarangan untuk masalah perangkat,” ujar Aryo kepada Bisnis, Kamis (21/3).

Sementara itu, Head of Southeast Asia, Country Manager Xiaomi Indonesia, Steven Shi menilai meningkatnya jumlah produk yang dikeluarkan oleh vendor untuk kelas middle-low tidak terlepas dari pemahaman bahwa persaingan bisnis, turut memberikan keuntungan bagi konsumen.

Adapun, jelas Steven, dengan memberi keuntungan kepada konsumen melalui kualitas produk, vendor-vendor dinilai akan semakin terpacu dalam hal produksi.

Terkait dengan hal tersebut, pihak vendor dituntut untuk memiliko strategi yang efektif, di mana beberapa di antaranya adalah menawarkan fitur-fitur perangkat, seperti kualitas kamera dan daya tahan baterai.

Sebagai gambaran, sampai dengan Maret 2019, untuk pasar middle-low, beberapa vendor sudah meluncurkan produk-produk anyar. Sebut saja, Samsung yang memproduksi Galaxy M20, Xiaomi dengan Redmi Note 7, dan Vivo dengan V15 dan V15 Pro.

Adapun, setiap gawai yang diluncurkan memiliki sedikitnya satu fitur yang benar-benar menjadi unggulan. Contohnya, Samsung Galaxy M20 yang mengandalkan performa baterai dengan kapasitas 5000 mAh. Kemudian, Redmi Note 7 dengan daya tahan kerangkanya serta kualitas kamera yang dipercanggih. Vendor meyakini, strategi di atas dapat mendongkrak pasar.

Namun demikian, empuknya pasar middle-low membuat strategi itu dinilai tidak cukup, terutama dengan adanya prediksi peningkatan produksi gawai untuk pasar Indonesia.

Aryo mengatakan, beberapa inovasi lain perlu diterapkan untuk produk-produk gawai. Di beberapa merek, inovasi yang sedikit berbeda seperti desain, warna, serta menyisipkan kecerdasan buatan sudah dilakukan. Belum lama ini, produk anyar vendor asal China, Xiaomi, Redmi Note 7 didukung kamera yang dilengkapi kemampuan artificial intelligence (AI).

Strategi lain yang diterapkan vendor adalah promosi. General Manager for Brand and Activation Vivo Indonesia, Edy Kusuma, mengungkapkan promosi dapat menjaga tingkat penjualan suatu produk di pasaran.

Selain itu, yang tidak kalah penting dalam persaingan gawai di pasar Tanah Air adalah perspektif masing-masing vendor. Adapun, menurut Aryo Meidianto, sampai dengan saat ini masih banyak vendor yang menganggap kelas middle-low tergolong biasa saja.

“Ini yang harus diubah, justru daya beli mereka tergolong tinggi, dan pembelian kembali mereka juga tinggi, dalam artian kesempatan penggantianhandphone justru besar pada segmen pasar ini,” paparnya.

Perspektif tersebut, salah satunya bisa diimplementasikan dengan menawarkan teknologi yang tepat guna serta fitur yang benar-benar dibutuhkan konsumen.

Vendor-vendor gawai tentunya memang harus menyesuaikan produknya dengan kebutuhan konsumen.

Sebagai gambaran, berdasarkan data riset Google berjudul Winning the Future With Gen-Z Audience, disebutkan 95,2% generasi Z kerap mengakses layanan video streaming. Sementara itu, data BI Intelligence Calculations 2017 berjudul Cisco VNI Global Mobile Data Traffic Forecast 2016-2017 menyebutkan konsumsi mobile video diprediksi meningkat sebanyak 8,7x pada 2021.

Terkait dengan hal tersebut, Head of Product Marketing IT & Mobile Samsung Electronics Indonesia Denny Galant, mengatakan vendor gawai perlu mempertimbangkan kebutuhan-kebutuhan yang selalu berkaitan erat dengan kebiasaan konsumen.

“Kebutuhan akan produk yang always on menjadi suatu hal yang penting bagi konsumen saat ini,” ujarnya

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
gadget

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top
Tutup