Disuntik Investor Kakap, Komposisi Manajemen Gojek Berubah?

Ekonom senior Creco Consulting, Raden Pardede berpandangan masuknya kuncuran investasi baru senilai US$1 miliar ke GOJEK tak akan mengubah wewenang manajemen lama dalam hal pengelolaan atau pengendali perusahaan.
Dinda Wulandari
Dinda Wulandari - Bisnis.com 07 Februari 2019  |  13:23 WIB
Disuntik Investor Kakap, Komposisi Manajemen Gojek Berubah?
Pengemudi Gojek melintas di kawasan bisnis di Jakarta. - Reuters

Bisnis.com, PALEMBANG — Ekonom senior Creco Consulting, Raden Pardede berpandangan masuknya kuncuran investasi baru senilai US$1 miliar ke GOJEK tak akan mengubah wewenang manajemen lama dalam hal pengelolaan atau pengendali perusahaan.

Bertahannya status pengendali ini, kata Raden, dimungkinkan jika skema kuncuran investasi ke perusahaan transportasi berbasis online asal Indonesia yang ditaksir mencapai Rp 14 triliun itu menggunakan skema dual class shares.

"Contohnya Facebook. Hari ini Mark Zueckerberg memang hanya jadi pemegang (saham) minoritas, tapi nyatanya dia masih memiliki kendali penuh atas Facebook. Begitu juga dengan Snap Inc. saat penawaran saham perdana (IPO) yang tak memberi hak suara kepada saham publik," terang Pardede, Kamis (7/2/2019).

Seperti diketahui, pada bulan ini Go-Jek diketahui akan mendapatkan suntikan dana mencapai US$1 miliar dari tiga investor global mencakup Google, JD.com, dan Tencent. Kucuran investasi yang ditaksir Rp 14 triliun tersebut diketahui menggunakan skema pendanaan seri F.

Berangkat dari fakta tersebut, Pardede mengatakan, manajemen lama Gojek pun diyakini masih akan dipercaya mengelola sekaligus menjalankan roda bisnis perusahaan.

"Ini bukti pengakuan dan kepercayaan kepada manajemen lama untuk meneruskan sekaligus mengembangkan perusahaan ke depan. Kenapa? Karena manajemen Gojek lama sudah memahami karakteristik pasar dan strategi bisnisnya," imbuh Padede.

Sebelumnya, Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Thomas T. Lembong menilai masuknya investasi baru ke Gojek akan memberi dampak positif pada iklim investasi dan perekonomian Indonesia.

Sebab, kata Thomas, dengan masuknya investasi tadi ke perusahaan start up nasional seperti Gojek akan menjadi stimulus terhadap keberadaan lapangan kerja baru yang dihasilkan dari model bisnis ekonomi digital yang belakangan semakin berkembang di Indonesia.

"Apalagi kebanyakan [yang terdampak positif] untuk pengusaha, pekerja muda, dan teknologi lokal. Sejauh ini sih dampaknya sangat positif," ujar Thomas.

Selain mendorong iklim investasi dan perekonomian Indonesia, Thomas menambahkan, masuknya investasi luar ke dalam negeri juga akan menjadi katalis positif terhadap upaya peningkatkan kinerja perusahaan. Ini karena perusahaan start up nasional seperti Gojek diketahui tengah gencar berekspansi ke luar negeri.

"Kalau sudah ngomong perusahaan raksasa digital seperti Go-Jek, Tokopedia, Bukalapak, dan lainnya, ya semakin banyak modal yang mengalir maka semakin baik. Karena pasar mereka bukan lokal saja, tapi regional dan global."

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Gojek

Editor : Surya Mahendra Saputra

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top