Produk Digital Diproyeksi Sumbang 60% PDB Indonesia pada 2022

Head of Operations IDC Indonesia Mevira Munindra mengatakan pertumbuhan industri digital yang didukung oleh meningkatnya penawaran, pengoperasian, dan relasi digital membuat pengeluaran terkait dengan Teknologi Informasi (TI) selama 2019-2022 diperkirakan mencapai US$78 miliar.
Rahmad Fauzan
Rahmad Fauzan - Bisnis.com 01 Februari 2019  |  16:02 WIB
Produk Digital Diproyeksi Sumbang 60% PDB Indonesia pada 2022
Warga bermain game online di Lhokseumawe, Provinsi Aceh, Kamis (3/1/2019). - ANTARA/Rahmad

Bisnis.com, JAKARTA -- Pada 2022, diperkirakan lebih dari 60% Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia adalah produk digital.
 
Head of Operations IDC Indonesia Mevira Munindra mengatakan pertumbuhan industri digital yang didukung oleh meningkatnya penawaran, pengoperasian, dan relasi digital membuat pengeluaran terkait dengan Teknologi Informasi (TI) selama 2019-2022 diperkirakan mencapai US$78 miliar.
 
Adapun 50% dari pengeluaran tersebut akan digunakan untuk kebutuhan platform teknologi pihak ketiga, di mana lebih dari 50% pengusaha Indonesia bakal membangun lingkungan digital native TI pada era ekonomi digital.
 
Cloud First harusnya dipertimbangkan sebagai strategi oleh para pengusaha, tidak hanya digital native dan leading edge organization. Salah satu alasannya adalah lingkungan TI berbasis komputasi awan akan membantu para pengusaha untuk bekerja secara lebih efisien dan efektif," ujarnya di Jakarta, Kamis (31/1/2019).
 
Mevira juga memandang penting bagi Line of Business (LOB) untuk bekerja sama dengan TI demi menciptakan solusi-solusi baru bagi para vendor. Keaktifan pemerintah pun turut dibutuhkan dalam membangun lingkungan digital native TI agar proses implementasinya menjadi jelas.
 
Lebih dari 15% organisasi cloud di Indonesia akan menggunakan edge computing, di mana 10% dari layanan serta sistem endpoint bakal berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).
 
Layanan endpoint bertujuan meningkatkan tingkat konsumsi AI di setiap perusahaan. Setiap pelaku usaha harus menentukan layanan endpoint yang paling cocok dengan model bisnis mereka.

Selain itu, mereka juga harus siap menyediakan layanan-layanan endpoint dengan tingkat kecerdasan yang tinggi serta menghubungkannya ke pusat infrastruktur.
 
“Para pebisnis akan berupaya lebih dalam meningkatkan kemampuan mereka untuk mendapatkan akses terhadap data dan mengambil keputusan dalam waktu singkat serta real time,” ucap Mevira.
 
Selain itu, 40% dari seluruh aplikasi digital pada 2022 diprediksi akan dilengkapi dengan arsitektur mikroservis. Penambahan arsitektur tersebut bertujuan meningkatkan kemampuan desain, debug, pembaruan, serta leverage third-party code.
 
Adapun 15% dari aplikasi yang diproduksi nantinya adalah cloud-native.
 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
pdb, digital

Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top