Kaspersky: Perang Siber Kian Ganas, Waspadai Router dan Cryptojacking

Beberapa kasus yang terjadi adalah serangan WannaCry, malware Roaming Mantis, serta sabotase Olimpiade Musim Dingin Pyongchang.
Dhiany Nadya Utami | 17 Oktober 2018 09:08 WIB
General Manager South East Asia Kaspersky Lab Yeo Siang Tiong menyampaikan sambutan pada Security Roadshow bertema Cyber Insight 2018, di Jakarta, Selasa (16/10/2018). - JIBI/Dedi Gunawan

Bisnis.com, JAKARTA — Dalam setahun terakhir serangan siber di kawasan Asia Pasifik semakin intens dan beragam. Tren tersebut diprediksi akan terus meningkat.

Director Global Research & Analyst Team Kaspersky APAC Vitaly Kamluk menyoroti ancaman-ancaman yang memengaruhi negara-negara APAC sepanjang 2017 dan paruh pertama 2018.

Dia menyebut beberapa kasus yang terjadi seperti serangan WannaCry, malware Roaming Mantis, serta sabotase Olimpiade Musim Dingin Pyongchang. Baginya hal tersebut baru sedikit contoh dari perang siber yang terjadi di kawasan Asia Pasifik dan dia memperkirakan ke depannya serangan akan semakin hebat.

 “Perang ini baru saja memanas,” katanya dalam pemaparan Kaspersky Cyber Insight 2018 Roadshow di Jakarta, Selasa (16/10/2018).

 Dalam paruh kedua tahun ini, Kamluk menuturkan beberapa potensi serangan yang mungkin terjadi. Pertama, serangan melalui perangkat internet of things (IoT) terutama serangan yang melibatkan network router.

Menurutnya, keamanan bagi perangkat router atau penghala saat ini tak lagi dapat diabaikan. Celah yang terlihat sederhana menjadi senjata bagi penjahat siber untuk masuk dalam sistem IT suatu perusahaan dan membuka jalan bagi peretasan yang lebih luas.

Selajutnya platform mobile juga menjadi serangan empuk, baik berbasis Android maupun iOS. Kamluk mencontohkan serangan Roaming Mantis yang bertujuan mencuri informasi pribadi pengguna dan memungkinkan pengambilalihan kontrol perangkat.

“Para ahli mengungkapkan kelompok berbahasa Korea atau China yang berada di belakang operasi ini bermotivasi mencari keuntungan finansial dengan melakukan peretasan pada sistem pembayaran mobile setelah berhasil menyusupi akun pengguna,” terang pria yang pernah bekerja di bagian Digital Crime Interpol ini.

Selain itu, sektor lain yang dijadikan target adalah aktivitas penambangan mata uang kripto. Banyak bisnis cryptocurrency yang disusupi oleh penjahat siber. Di sisi lain, banyak pula perangkap yang digunakan mereka seperti cryptojacking yang memanfaatkan daya perangkat korban untuk menambang kripto.

Khusus untuk wilayah Indonesia, Kamluk menilai pola serangannya berbeda dengan yang kebanyakan terjadi di negara lain. Menurutnya di Tanah Air serangan dari dalam negeri dan luar negeri cenderung berimbang.

“Sementara kalau dibandingkan negara lain, terutama yang merupakan hub [pusat server] seperti Singapura, serangan lebih banyak dari luar,” tambahnya.

Dalam kesempatan yang sama, Donny Koesmandarin selaku Territorial Manager Kaspersky Lab SEA mengatakan saat ini Indonesia memang belum berada dalam kondisi genting, tetapi ancaman dapat datang kapan saja dan sebaiknya perusahaan bersiap.

“Kami di sini membantu tidak hanya dalam posisi komersial tapi tetap berorientasi dalam memberikan proteksi terbaik secara menyeluruh,” ujarnya.

Tag : serangan siber
Editor : Demis Rizky Gosta

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top