Mengejar Ponsel Gaib dari Setia Sampai Kecewa

Konsumen atau end user adalah pihak yang paling dirugikan atas kelangkaan produk ini karena reseller memasang harga jauh lebih tinggi.
Dhiany Nadya Utami | 22 Juni 2018 15:40 WIB
Pelanggan mengantre di depan Authorized Mi Store di Roxy Mas, Jakarta pada Minggu (13/5/208). Xiaomi meresmikan pembukaan enam Authorized Mi Store terbaru di Indonesia - Xiaomi

Bisnis.com, JAKARTA — Dina, karyawan di salah satu stasiun televisi swasta, adalah satu dari ribuan calon pembeli yang mengalami nasib apes saat mengikuti flash-sale. Kegagalannya bukan lantaran kurang persiapan. Dia bersiap di depan laptop sejak 10.30 malam, siap-siap mengikuti penjualan kilat yang dimulai pukul 11.00 tepat.

Entah salah jaringan internet atau memang pembelinya benar-benar membludak, tetap saja dia kalah cepat dengan para “pesaing” yang sama-sama ingin membeli ponsel tersebut. Saat mengetuk pilihan “Beli” hanya tulisan “Stok habis” alias “Sold-out” yang menyapanya.

Namun, dia cukup sabar mengikuti program tersebut sampai berkali-kali meski selalu tak berhasil dan akhirnya masih mau setia menunggu ponsel incaran sampai dijual di toko distributornya.

Calon pembeli lainnya memilih bersikap sebaliknya. Saking kesalnya menunggu, beberapa di antaranya menyebut mereka batal membeli dan memilih produk dari vendor lain. Tak hanya itu mereka menumpahkan kekesalan ke akun media sosial.

Dua akun Instagram vendor ponsel yakni @xiaomiindonesia dan @asusid terpantau ramai akan “serangan” netizen yang protes mengenai ketidaktersediaan produk dari kedua mereka tersebut.

“Percuma ngiklan tapi enggak ada barangnya,” komentar akun @doansimamora.

“Masih ghoib,” tulis @ali.bintoro1

“Anda buat fans kecewa!” kata @ady_kurniawan.

“Maaf, sudah berpaling ke yang lain. Kelamaan. Tidak bisa diharapkan. Sorry,” ungkap @wibowo wahyu.

Demikian beberapa komentar yang ditemukan pada kolom komentar Asus dan Xiaomi. Tak hanya itu, sebutan “ponsel gaib” pun ramai di linimasa. Konsumen kesal dengan vendor yang terus sesumbar mengenai produknya tetapi sulit didapatkan di pasaran.

Produk yang dicari sebagian besar konsumen adalah Xiaomi Redmi Note 5 dan Asus Zenfone Max Pro M1.

Kedua produk itu rilis di Indonesia dalam waktu berdekatan. Xiaomi memperkenalkan Redmi Note 5 pada 18 April lalu dan mulai menjualnya via flash-sale di Lazada mulai 25 April. Kurang dari seminggu kemudian, pada 23 April, Asus meluncurkan Zenfone Max Pro M1 dan sama-sama mulai dijual per 25 April di kanal dagang-el yang sama.

Review Xiaomi Redmi Note 5: Terbaik di Kelas Mid-Low

Head of Xiaomi South Pasific Region and Xiaomi Indonesia Country Manager Steven Shi mengaku terkejut dengan sebutan “ponsel gaib” yang beredar di dunia maya. Menurutnya hal ini terjadi karena permintaan yang tinggi, masyarakat berlomba-lomba untuk mendapatkan produk yang mereka incar tersebut segera setelah produknya dirilis.

“Mereka [konsumen] sudah mengenal Xiaomi yang selalu memberikan harga yang nyata. Harga terjangkau dengan kualitas baik” katanya saat ditemui pada acara peluncuran Xiaomi S2 baru-baru ini.

Kapasitas Produksi

Pada kesempatan lain, South East Asia Regional Director Asus Benjamin Yeh mengaku permintaan dari pasar amat tinggi dan di luar prediksi sehingga mereka kewalahan untuk memenuhinya.

Yeh membantah ada unsur kesengajaan dari vendor untuk menahan suplai ke pasar. Menurutnya, tidak ada kesengajaan dari pihak vendor untuk mempersulit konsumen mereka.

Review Zenfone Max Pro M1: Baterai Jumbo untuk Gamers

“Saya mengerti jika para konsumen yang ingin membeli jadi kesal karena stok selalu kosong. Saya minta maaf. Ini bukan kesengajaan tetapi memang keterbatasan produksi,” jelas Yeh usai launching Zenfone 5, beberapa waktu lalu.

Dia menjanjikan stok produknya akan membaik pada akhir Mei dan awal Juni ini, termasuk stok di kanal penjualan luring. Dia menuturkan sebenarnya Asus memiliki sistem sendiri untuk menentukan jumlah produksi tiap produk, tetapi kondisinya dikembalikan lagi ke pasar.

“Tentu kami punya forecast, tapi hasilnya kan siapa yang tahu? Ternyata permintaan membludak, maka sekarang kami berusaha secepat mungkin memenuhi permintaan pasar,” tambah Yeh.

Senada dengan Yeh, Shi juga mengatakan Xiaomi tak hanya berdiam diri melihat kondisi ini. Dia menyebut pihaknya berusaha menghadirkan lebih banyak stok agar para MiFans, sebutan untuk penggemar produk Xiaomi, dapat memperoleh produk yang mereka inginkan secara cepat.

Dia menyadari ada kemungkinan para konsumen yang terlanjur kesal akan beralih ke vendor lainnya jika gagal memenuhi hal tersebut. “Kami bekerja sekeras mungkin,” kata Shi.

Akan tetapi, baik Shi maupun Yeh enggan membeberkan berapa kapasitas produksi mereka untuk kedua produk tersebut. Mereka juga menolak mengungkapkan jumlah unit yang disediakan setiap program flash-sale diadakan.

Sebagai pihak distributor, CEO sekaligus Wakil Presiden Direktur PT Erajaya Swasembada Tbk., mengaku belum mendengar perihal masalah “ponsel gaib” yang sedang ramai. Saat dikonfirmasi, dia juga menolak menyebutkan berapa unit yang dialokasikan untuk flash-sale.

“Angkanya terus terang kami tidak bisa kasih tahu, tapi jumlahnya tidak sedikit. [Masalah] yang tidak dapat [flash-sale] itu enggak tau gimana, tapi yang dapat juga banyak kan,” tuturnya saat dihubungi Bisnis.

Adapun, dari sisi produksi menurutnya saat ini tidak ada masalah. Baik dari sisi kecepatan produksi maupun dari sisi regulasi Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN) yang me­­naunginya.

Adalah hal yang wajar, menurut Hasan, jika produk baru yang sedang populer selalu kekurangan stok karena diburu masyarakat. Selain saat flash sale, kekurangan stok produk baru juga sering terjadi di toko luring.

“Di toko memang ada beberapa tipe yang demand-nya tinggi suka habis saja, terutama yang baru-baru launching. Tapi [produk] yang lama-lama ada di tokonya semua,” kata Hasan.

Kekecewaan Konsumen

Associate Market Analyst International Data Corporation (IDC) Indonesia Risky Febrian menilai kelangkaan produk amat berpotensi membuat calon konsumen kecewa dan berpaling ke merek lainnya. Akan tetapi dia belum dapat menyimpulkan apakah secara angka vendor akan mengalami kerugian.

“Kalau secara pengapalan sebetulnya tidak ada masalah karena barangnya tetap keluar. Barangnya tetap terjual, meski jatuhnya ke reseller,” ujarnya pada Bisnis beberapa waktu lalu.

Konsumen atau end user adalah pihak yang paling dirugikan atas kelangkaan produk ini. Salah satunya karena karena adanya fenomena produk yang terjual di flash-sale jatuh ke tangan reseller sehingga konsumen harus membayar harga lebih tinggi.

Namun meski tampaknya metode penjualan flash-sale ini mulai “dibenci” masyarakat, Risky memprediksi para vendor masih akan setia menggunakan cara yang sama. Dia menuturkan, metode flash-sale terbukti ampuh untuk “menggoreng” ketertarikan pasar sehingga para konsumen akan tetap memburu produk yang dijual sambil menunggu produk tersebut tersedia di toko luring.

“Kalau tidak ada promosi atau program apa-apa nanti konsumen lupa,” tambahnya.

Pada akhirnya, hubungan antara calon konsumen, vendor, dan program flash-sale akan terus menjadi hubungan benci tapi cinta. Kendati dicaci-maki, nyatanya tetap banyak calon konsumen yang setia menunggu flash-sale hingga berminggu-minggu.

Namun, agaknya para vendor juga harus mulai berhati-hati dalam mengatur strategi dan menyiapkan stok untuk menjaga hati para konsumennya agar tidak terlanjur berpindah ke lain vendor.

Tag : smartphone
Editor : Demis Rizky Gosta

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top