Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

Facebook dan Twitter Ikut Perangi Hoax

Facebook dan Twitter bergabung dengan jaringan beranggotakan 30 perusahaan media dan teknologi untuk memerangi berita palsu ("hoax") dan meningkatkan kualitas informasi di media sosial, demikian keduanya menyatakan pada Selasa (13/9/2016).
Martin Sihombing
Martin Sihombing - Bisnis.com 14 September 2016  |  12:50 WIB
Facebook dan Twitter Ikut Perangi Hoax
Facebook. - Reuters
Bagikan

Bisnis.com, NEW YORK -  Facebook dan Twitter bergabung dengan jaringan beranggotakan 30 perusahaan media dan teknologi untuk memerangi berita palsu ("hoax") dan meningkatkan kualitas informasi di media sosial, demikian keduanya menyatakan pada Selasa (13/9/2016).

Jaringan bernama "First Draft Coalition" yang dibentuk pada Juni 2015 dengan dukungan dari perusahaan induk Google, Alphabet Inc., tersebut mempunyai misi menciptakan kode etik independen dan mempromosikan literasi berita pada pengguna mendia sosial.

Mereka juga berencana meluncurkan perangkat yang berfungsi untuk memeriksa kebenaran sebuah berita.

Perangkat itu akan diluncurkan pada akhir Oktober mendatang, kata Jenni Sargent, direktur pelaksana jaringan "First Draft Coalition", melalui surat elektronik.

Beberapa anggota koalisi tersebut di antaranya adalah surat kabar New York Times, Washington Post, Buzzfeed News, Agence France-Presse, dan CNN.

Facebook, yang merupakan jaringan media sosial terbesar di dunia dengan pengguna bulanan sekitar 1,7 milyar orang, telah berulangkali dikritik karena secara tidak langsung berperan menyebarkan informasi dan berita palsu.

Sementara Twitter, yang mempunyai pengguna harian sekitar 140 juta orang, selama ini memainkan peran penting dalam menyebarkan berita terhangat dan laporan langsung dari saksi mata.

Pada Agustus lalu, Facebook meningkatkan penggunaan otomatisasi untuk menyeleksi topik paling hangat dengan fiture "Trending" sebagai cara untuk mengurangi bias.

Sementara Twitter pada Juli lalu menghapus postingan dari kelompok-kelompok radikal yang mengglorifikasi serangan teror truk di Nice, Prancis. Atas kebijakan itu, mereka dipuji oleh sejumlah lembaga pemantau media.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

facebook twitter

Sumber : ANTARA/REUTERS

Editor : Martin Sihombing
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Terpopuler

back to top To top