BELANJA TIK NASIONAL: Diprediksi Tumbuh 10,6% ke US$29 miliar

JAKARTA--International Data Corporation (IDC) memprediksikan belanja industri teknologi, informasi, dan komunikasi Indonesia tumbuh 10,6% atau sebesar US$32,8 miliar, jika dibandingkan dengan belanja TIK pada 2012 sebesar US$29 miiar. Total belanja
News Editor
News Editor - Bisnis.com 18 Desember 2012  |  03:15 WIB

JAKARTA--International Data Corporation (IDC) memprediksikan belanja industri teknologi, informasi, dan komunikasi Indonesia tumbuh 10,6% atau sebesar US$32,8 miliar, jika dibandingkan dengan belanja TIK pada 2012 sebesar US$29 miiar. Total belanja TIK Indonesia tersebut merupakan gabungan dari total belanja TI pada 2013 yang diprediksi mencapai US$15,8 miliar dan belanja sektor telekomunikasi yang diprediksi mencapai US$17 miliar. Head of Indonesia Operations IDC Indonesia Sudev Bangah mengungkapkan hal ini dipicu oleh pertumbuhan ekonomi Indonesia yang cenderung stabil. Lebih lanjut, kata Shudev, industri TIK akan memainkan peran penting dalam transformasi ekonomi Indonesia. Bedasarkan survei yang dilakukan Transnational Corporation (TNC) terhadap 174 responden perusahaan, Indonesia berada di posisi keempat negara tujuan investasi yang memiliki prospek ekonomi terbaik pada 2012 hingga 2014. Tiga posisi teratas ditempati China, Amerika Serikat, dan India "Pertumbuhan foreign direct investment (FDI) pada kuartal III/2012 di Indonesia sebesar 22%, akan mendorong terutama perusahaan untuk belanja TIK. Belanja TIK perusahaan ini yang akan memicu pertumbuhan belanja TIK Indonesia pada 2013," ungkap Sudev, disela-sela jumpa media, Senin (17/12). Ada 10 prediksi tren yang berkembang di dunia TIK Indonesia pada 2013 menurut IDC. Pertama, peningkatan belanja infrastruktur akan memicu peningkatan belanja TIK. Pada 2013, kata Sudev, dari total prediksi belanja TIK Indonesia yang mencapai US$15,8 miliar, dua faktor yang akan memicu pertumbuhan belanja adalah pemakaian perangkat teknologi dan jasa TI. Adapun pada belanja sektor non-TI seperti manufaktur dan ritel/jasa juga akan memicu pertumbuhan belanja TIK. Berdasarkan riset IDC, belanja TIK sektor manufaktur akan tumbuh sebesar 12% hingga mencapai lebih dari US$1 miliar, sedangkan sektor ritel dan jasa masing-masing akan mengalami pertumbuhan sebesar 14% dan 15%. "Fokusnya belanja TIK Indonesia tahun ini masih didominasi sektor finansial, namun ke depan, manufaktur, ritel, dan jasa juga akan berkontribusi terhadap pertumbuhan," tambah Sudev. Tren kedua yang akan berkembang pada 2013 adalah mobile broadband sebagai kunci peningkatan penggunaan produk TIK. Pada 2012, pangsa pasar jasa mobile broadband  di Indonesia bernilai US$650 juta, dengan pelanggan mencapai 31 juta, atau tumbuh hampir 80% dari tahun lalu. Sudev memprediksikan total pasar broadband akan tumbuh CAGR sebesar 55% hingga 2016. Prediksi pertumbuhan ini dipicu ekspansi jangkauan operator, penurunan harga USB modem dan perangkat mobile, serta harga broadband yang lebih terjangkau. Selain itu, tren ketiga dan keempat adalah berkembangnya startup lokal dan pertumbuhan cloud computing. "Online gaming, e-commerce akan menjai sangat besar. Hal ini dipicu konsumsi domestik yang tinggi, penetrasi penggunaan perangkat seperti ponsel pintar, tablet. Untuk cloud, Indonesia memang masih lambat adopsinya, namun masih akan berkembang pada 2013," ungkap Sudev. Selanjutnya, tren kelima adalah berkembangnya Bring Your Own Device (BYOD) dalam konteks perusahaan. Sudev mengungkapkan kehadiran Windows 8 akan menjadi pemicu utama dalam tren BYOD. Pasalnya, kata Sudev, masyarakat Indonesia, khususnya para pekerja sudah akrab dengan Windows dan sebanyak 44% dari perusahaan yang menjadi responden IDC tengah mencari perangkat yang cocok untuk diintegerasikan dalam sistem perusahaan mereka. "Isu yang kemudian muncul adalah masalah keamanan dan kebijakan TI perusahaan. Pada 2013 akan banyak muncul diskusi perusahaan mengenai masalah ini," kata Sudev kepada Bisnis. Tren keenam adalah kompetisi ketat para vendor PC yang akan menyasar kota-kota di luar Pulau Jawa. Sudev menjelaskan saat ini pengapalan PC di Jawa menurun dari 78% menjadi 73%, sehingga para vendor PC akan mengincar wilayah timur Indonesia untuk digarap pangsa pasarnya. Tren ketujuh dan kedelapan adalah perang antar sistem operasi dan pertumbuhan pusat data. Untuk sistem operasi, Sudev memprediksi kehadiran Windows 8 akan berdampak signifikan, terutama untuk belanja TI perusahaan.Selain itu kehadiran Blackberry 10 juga akan megembalikan pamor Blackberry meski tdak signifikan. Sementara pengapalan ponsel pintar Android juga akan meningkat 16% seiring dengan munculnya ponsel pintar murah di kisaran harga US$200.Untuk pertumbuhan pusat data, Sudev memprediksi akan tumbuh meski masih dibayangi isu keamanan, kemampuan pekerja, dan ongkos operasional perusahaan. Dua tren terakhir adalah transformasi CIO dan pengembangan mind share vendor TI di timur Indonesia. "Ada empat pilar yakni cloud, media sosial, dan perangkat mobile yang akan banyak digunakan perusahaan untuk membantu mereka mengambil kebijakan, meskipun saat ini tren analisis big data belum berkembang di Indonesia," tutur Sudev. Terkait dengan tren di timur Indonesia, Sudev mengungkapkan, vendor TI tidak akan fokus pada pengembangan pangsa pasar melainkan mind share. (34/Bsi)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Sumber : Febriany D.A. Putri

Editor : Puput Jumantirawan

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top