SURVEI GLOBAL: Proteksi Data & Infrastruktur Jadi Prioritas

JAKARTA--Mencegah infiltrasi ilegal atas jaringan dan melindungi informasi rahasia perusahaan adalah dua isu utama yang dihadapi perusahaan manapun terkait infrastruktur keamanan. Dua isu utama tersebut merupakan hasil survei Global IT Security Risk
News Editor
News Editor - Bisnis.com 10 Desember 2012  |  18:13 WIB

JAKARTA--Mencegah infiltrasi ilegal atas jaringan dan melindungi informasi rahasia perusahaan adalah dua isu utama yang dihadapi perusahaan manapun terkait infrastruktur keamanan. Dua isu utama tersebut merupakan hasil survei Global IT Security Risk 2012. Berdasarkan siaran pers yang diterima Bisnis, Senin (10/12), survei ini melibatkan lebih dari 3.300 profesional TI senior dari 22 negara.Mereka ditanyai mengenai tiga tugas utama terkait dengan kebijakan keamanan TI yang mereka terapkan untuk perusahaan. Seluruh responden memiliki pengaruh dalam pengambilan kebijakan keamanan TI dan pengetahuan yang baik mengenai isu keamanan TI. Indonesia juga menjadi salah satu negara yang disurvei, yakni sebanyak 102 proseional TI. Selain Indonesia, negara lain di Asia Tenggara yang disurvei adalah Malaysia dan Singapura, masing-masing 100 dan 51 profesional IT. Hasilnya, sebanyak 50% responden menyebutkan ancaman keamanan cyber menjadi isu utama bagi perusahaan mereka. Ancaman keamanan cyber menempati posisi kedua setelah ketidakpastian kondisi ekonomi. Sementara di posisi ketiga ada perusakan reputasi perusahaan. Ini membuktikan keamanan jaringan TI sudah menjadi perhatian perusahaan. Sementara itu, sebanyak 42% responden yakin pada 2 tahun mendatang, keamanan jaringan TI akan menjadi isu yang lebih besar, melampaui ketidakpastian kondisi ekonomi. Oleh karena itu, tiga tugas utama para profesional TI berdasarkan hasil riset tersebut yakni, mencegah penjahat cyber yang memasuki jaringan perusahaan sebanyak 31%, melindungi informasi atau data sebanyak 27%, serta mengontrol penggunaan perangkat mobile sebanyak 13%. Berdasarkan keseluruhan hasil survei, Kaspersky Lab memberikan rekomendasi bahwa penting bagi perusahaan untuk menerapkan kebijakan pelarangan instalasi dan peluncuran atau penggunaan software pada perangkat perusahaan yang memiliki akses informasi dan layanan perusahaan. Selain itu, untuk menghadapi ancaman serangan cyber yang diprediksi semakin marak, perusahaan juga perlu memiliki perlindungan anti-malware, terutama untuk perangkat Android. Sementara itu, ponsel pintar dan tablet juga harus bisa dikelola melalui remote hingga akses informasi rahasia perusahaan bisa diblok dan dihapus jika perangkat hilang atau dicuri. (34/Bsi)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Sumber : Febriany D.A. Putri

Editor : Puput Jumantirawan

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top