POTENSI PERIKANAN: Budidaya Ikan Sidat Terkendala Benih

JAKARTA: Potensi ikan sidat sangat besar, tetapi Indonesia sebagai negara penghasil sidat terbesar di dunia belum memiliki teknologi pembenihan, sehingga masih mengandalkan hasil tangkapan dari alam.Dirjen Perikanan Budidaya Slamet Subiakto mengatakan
Yeni H. Simanjuntak
Yeni H. Simanjuntak - Bisnis.com 22 April 2012  |  15:46 WIB

JAKARTA: Potensi ikan sidat sangat besar, tetapi Indonesia sebagai negara penghasil sidat terbesar di dunia belum memiliki teknologi pembenihan, sehingga masih mengandalkan hasil tangkapan dari alam.Dirjen Perikanan Budidaya Slamet Subiakto mengatakan budidaya sidat menjadi salah satu usaha yang menjanjikan dan beromzet tinggi. Namun, budidaya sidat masih terbatas, karena belum ada teknologi untuk pemijahan, sehingga harga di pasaran terbilang cukup tinggi. “Potensi sidat di Indonesia luar biasa besarnya, karena Indonesia merupakan negara penghasil sidat terbesar di dunia, karena hampir setiap muara di perairan Indonesia terdapat sidat,” ujarnya.Menurutnya, makhluk licin berlendir itu sangat diminati pasar dunia, terutama konsumen oriental, seperti Jepang, Hongkong, Korea Selatan, China, dan Taiwan.Permintaan sidat di pasar internasional mencapai 300.000 ton per tahun. Dari total kebutuhan tersebut, permintaan Jepang terhadap jenis unagi kabayaki 150.000 ton per tahun.Adapun, permintaan sidat di DKI Jakarta cukup besar mencapai 3 ton per bulan. Pertumbuhan restoran Jepang di Indonesia membuat permintaan terhadap sidat terus meningkat. “itu pun masih kekurangan pasokan bahan baku sidat.”Saat ini, harga sidat mencapai Rp300.000-Rp600.000 per kg. Selain Indonesia, negara lain yang mengekspor sidat adalah Eropa, China, dan Amerika Serikat.Namun, Indonesia belum memiliki teknologi untuk pembenihan sidat, sehingga masih mengandalkan hasil tangkapan dari alam. "Bahkan di belahan dunia manapun belum ada teknologi pemijahan bagi sidat ini."Slamet menghimbau masyarakat agar tidak menangkap sidat di atas 500 gram. Selain itu, pemerintah daerah setempat harus membuat peraturan bahwa orang menangkap dari alam harus dibudidayakan tidak boleh langsung dijual. “Namun, untuk sidat yang berukuran diatas 30 cm itu baru boleh dijual."Terkait ekspor benih ilegal, Slamet menegaskan tidak boleh ekspor sidat jenis elver dan glass eel karena sudah ada peraturan yang mengatur pelarangan ekspor benih sidat.Dia menuturkan ekspor yang dilarang adalah benih-benih sidat yang berukuran panjang 30 cm dengan diameter minimal 2,5 cm serta berat 100 gram.Slamet mengakui masih terkendala dalam penyediaan pakan untuk sidat. “Budidaya Sidat merupakan hal yang baru, nah  tantangan bagi kita untuk membuat formulasi pakan sidat,” katanya.Pemilik PT Jawa Suisan Indah Ishitani mengatakan pakan untuk sidat masih menjadi kendala. Menurutnya pakan khusus sidat masih belum ada yang sesuai di Indonesia. Oleh sebab itu, pabrik ini menyiasatinya dengan memakai pakan udang untuk pakan sidat.Menurutnya, pabrik miliknya masih kekurangan bahan baku untuk pabrik pengolahan, karena dengan kapasitas pabrik sekitar 2.000 ton, tetapi produksi baru mencapai 300 ton per tahun.Dia mengharapkan agar pasokan sidat ditambah, sehingga dapat memenuhi permintaan pasar. Untuk menyiasati kekurangan pasokan, Ishitani memberdayakan pembudidaya dengan membeli hasil tangkapan sidat dari masyarakat. “Biasanya, kami membeli dari masyarakat minimal ukurannya sekitar 5 gram.Sentra sidat di Indonesia terdapat di Parigi Moutong, Manado, NTT, Aceh, dan Bengkulu. Menurutnya, hasil tangkapan dari alam masih terbilang cukup banyak, tentunya harus kita kendalikan.Ikan sidat memiliki bentuk yang menyerupai belut. Secara fisik belut memiliki bentuk kepala lancip dan bulat, sedangkan ikan sidat ini mempunyai bentuk kepala segitiga, badan berbintik-bintik, dan ekor mirip dengan ekor lele. Sidat juga bukan belut berkuping, karena yang selama ini dianggap telinga, sebenarnya adalah sirip.Dilihat dari ukurannya, panjang tubuh belut akan mentok di kisaran 60 cm, sedangkan panjang sidat berkisar 80 cm-125 cm. Bobot terberat ikan jenis ini dapat mencapai 1 kg.Selain memiliki pasar ekspor yang potensial, ikan sidat sendiri memiliki kandungan vitamin yang tinggi. Hati ikan sidat memiliki 15.000 IU per100 gram kandungan vitamin A. Lebih tinggi dari kandungan vitamin A mentega yang hanya mencapai 1.900 IU per100 gram.Bahkan kandungan DHA ikan sidat 1.337 mg per 100 gram mengalahkan ikan salmon yang hanya tercatat 820 mg per100 gram atau tenggiri 748 mg per 100 gram. (faa)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Dara Aziliya

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top