HOTBONAR SINAGA: Saya memang pelit

Pengalamannya di industri asuransi merupakan modal bagi Hotbonar Sinaga untuk masuk dalam kandidat Direktur Utama PT Jamsostek dan akhirnya didapuk menjadi pemimpin perusahaan itu sejak 2007. Sebagai orang nomor satu di perusahaan dengan dana kelolaan
News Editor
News Editor - Bisnis.com 20 April 2012  |  00:00 WIB

Pengalamannya di industri asuransi merupakan modal bagi Hotbonar Sinaga untuk masuk dalam kandidat Direktur Utama PT Jamsostek dan akhirnya didapuk menjadi pemimpin perusahaan itu sejak 2007. Sebagai orang nomor satu di perusahaan dengan dana kelolaan yang saat ini mencapai Rp116 triliun, dia mengaku banyak menerima permintaan bantuan dana. Namun, dia selalu menampiknya dengan halus, karena memang tidak ada alokasi dana untuk itu.

 

Pria yang selalu berpenampilan necis ini tidak peduli dicap pelit oleh beberapa kalangan. “Saya memang pelit,” katanya sambil tergelak. Berikut perbincangan Bisnis dengan Hot bonar yang ditemui di ruangan kerjanya beberapa waktu lalu:

 

Apa keputusan tersulit yang pernah Anda ambil?

 

Sebetulnya mengambil keputusan itu tidak mudah, kecuali yang rutin. Nah, ini keputusan yang tidak rutin dan berkaitan dengan investasi Jamsostek.Waktu itu, Jamsostek memiliki saham di Bank Persyarikatan Indonesia yang sekarang bernama Bank Syariah Bukopin. Pelaksanaan RUPS pada akhir 2007 cukup menentukan.

 

Ada beberapa pemegang saham di Bank Syariah Bukopin. Jamsostek sebesar 20-an%, Bakrie Capital sebesar 20-an%, Bank Bukopin sebesar 40-an%, Emil Abeng [putra Tanri Abeng], dan saya lupa siapa lagi.

 

Singkat cerita, waktu itu Bank Persyarikatan berdarah-darah. Dalam RUPS tersebut ada tawar-menawar berapa harga yang patut untuk saham baru bank itu. Sebagai pemegang saham yang tidak berniat menambah modal, kami tentunya harus memperjuangkan nilai saham yang setinggi-tingginya.

 

Kami minta Rp100 per saham, Bank Bukopin minta Rp30-Rp40 per saham. Saya tidak mengikuti RUPS tersebut, tetapi mengatur dari luar sebagai di rektur utama. Gara-gara keputusan saya terkait dengan hal itulah, saya di panggil Kejaksaan.

 

Waktu itu, saya minta kepada dua direktur Jamsostek agar RUPS jangan sampai deadlock. Jika itu terjadi, bank tersebut bisa mati, sehingga dana Jamsostek Rp36 miliar akan hilang.

 

Saya harus memutuskan agar bank itu tertolong. Bukopin kemudian menyetor Rp100 miliar, sehingga kepemilikannya menjadi mayoritas. Jamsostek tidak ikut menyetor sehingga kepemilikan kami terdilusi.Porsi kepemilikan Jamsostek turun menjadi 9%-an.

 

Belakangan, ada hal-hal yang ter kait dengan keputusan saya dalam masalah ini dipersoalkan. Bagi saya, ini membuat keputusan itu menjadi keputusan tersulit buat saya, karena sempat dipanggil ke Gedung Bundar.

 

Apakah masalah itu sudah selesai?

 

Masih dipersoalkan oleh DPR. Kalau secara hukum, itu malah tidak jelas. Waktu itu masih dalam tahap penyidikan, bukan penuntutan, karena baru tahap oleh Jamintel. Masalah itu dilaporkan pada 2009, tetapi tidak jelas statusnya. Prosesnya belum diserahkan dari Jamintel ke Jampidsus, masih ngambang kasusnya.

 

Sebagai Ketua Komunitas Pengusaha Anti Suap [Kupas] dan menjadi koordinator antisuap di lingkungan 141 BUMN, saya tidak pernah menyuap siapa pun. Saya konsisten dalam hal itu.

 

Sampai pada zamannya Pak Mustafa Abubakar [mantan Menteri BUMN] dan Pak Parikesit Suprapto [Deputi Menteri BUMN], saya tanya ke Pak Parikesit, bagaimana tanggapan DPR dan Kementerian BUMN terhadap saya. Saya dibilang dirut paling pelit di depan Pak Mustafa.

 

Saya memang pelit, karena memang tidak ada dana taktis. Misalnya untuk karangan bunga atau kado, dana itu ada secara legal, tapi sedikit.

 

Apa prestasi Anda di perusahaan yang saat ini Anda pimpin?

 

Bicara tentang prestasi saya di sini, itu bisa dilihat dari sisi finansial. Saya menaikkan aset Jamsostek dari posisi 2007 menjadi dua kali lipat. Pada 2006, asetnya berjumlah Rp47 triliun dan mencapai Rp116 triliun pada tahun lalu. Itu kinerja yang memang patut dibanggakan.

 

Satu hal lagi, reputasi atau nama baik. Sekarang semua orang mengakui Jamsostek ki nerjanya sudah baik dan reputa sinya. Bahkan Presiden terang terangan memuji saya. Ketika itu ada kunjungan ke daerah. Dia apresiasi kinerja Jamsos tek yang semakin baik.

 

Dalam perjalanan karier Anda, apa tantangan terbesar?

 

Saat saya memimpin Berdikari. Aset nya paling kecil sekitar Rp100 miliar ketika saya masuk dan utangnya banyak dan tidak ada uangnya. Saya sampai menemui pemegang sa hamnya dan bilang jika tidak mau setor modal, perusahaan bisa collapse.

 

Saya pun mundur pada Januari 2004 tanpa ada keberhasilan. Itu adalah tantangan terbesar yang saya anggap sebagai kegagalan. Itu karena warisan lama. Asuransi butuh nama baik, kemampuan keuangan, risk-based capital susah jika di bawah 120% dan susah menambah bisnis.

 

Selain memimpin beberapa perusahaan berstatus BUMN, apakah Anda pernah bekerja di perusahaan swasta?

 

Pernah di LPEM yang dipimpin oleh Sri Mulyani dan Darmin Nasution di bawah Universitas Indonesia periode 1970-an dan pernah di perusahaan pelayaran punya pengusaha Bob Hasan. Saya pernah dikirim ke Norwegia untuk belajar shipping pada era 1980-an.

 

Pada 1986, saya melihat ada orang sukses di industri asuransi yakni Sony Dwi Harsono. Waktu itu, kami berprofesi sama-sama dosen. Dia beberapa tahun lebih senior dari pada saya.

 

Dia adalah direktur Asuransi Tugu Pratama pada 1986 hingga akhir 1990-an. Tugu Pratama adalah asuransi paling besar dan paling untung renumerasinya. Sehingga direksinya jadi pembayar pajak terbesar di Indonesia. Itu yang membuat saya tertarik untuk bekerja di perusahaan asuransi.

 

Saya masuk broker pada 1986. Pada 1991, saya mau direkrut untuk Ditjen Pembinaan BUMN yang dipimpin Bambang Sugianto. Saya sudah kenal dengan komisaris utama Jamsostek selama 30 tahun saat ini. Pada 1991, saya masuk ke Tugu Mandiri, Pak Sony juga yang merekomendasikan. Saya bekerja hingga 1997.

 

Kemudian, masuk sebagai penasihat Bank Papan. Pada 1998, saya pindah ke perusahaan ke Metlife, asuransi jiwa terbesar di AS selama setahun. Pada 1998-1999, saya dipercaya menjadi konsultan Kementerian BUMN untuk me-review 11 BUMN asuransi di bawah UI. Pada 1999, saya sempat direkrut Ernst dan Young di Kanada untuk review.

 

Lebih nyaman di BUMN atau swasta?

 

Saya lebih nyaman di sini karena tantangannya berat. Saya juga harus memulihkan nama baik Jamsostek yang sering dicaci-maki di sana-sini, media, pemerintah sendiri, dan DPR. Tantangannya paling besar di situ.

 

Tantangan terbesar adalah memperbaiki citra, nama baik, dan reputasi, bukan marketing untuk meningkatkan iuran. Ketika masuk ke sini, yang saya tingkatkan adalah tata kelola.

 

Pada 2002, saya menjadi anggota Fo rum Corporate Governance dan pada 2004 menjadi anggota Komite Nasional Kebijakan Governance. Prinsip-prinsip itu yang saya terapkan di sini. Pada April mulai diberlakukan pakta integritas.

 

Beberapa LSM ada yang rajin  memantau kinerja Jamsostek,  bagaimana tanggapan Anda mengenai hal itu?

 

Itu positif karena kritik itu perlu selama tidak mengada-ada. ICW pernah mengirim surat ke kami pada 2011, soal BPJS, tentang investasi, CSR, dan kehumasan. Kami lalu jawab pertanyaan mereka dan berikan datanya. Minta ketemu, kami layani hingga sekarang belum datang.

 

Mereka masih pertanyakan soal Bank Persyarikatan, padahal itu ada di laporan keuangan tahunan. ARA pun menilai dengan transparansi. Mereka mempertanyakan tentang CSR yang tidak terlalu detail. Kami welcome dan tanggapi mereka dengan positif, yakni LSM yang memberikan kritik itu.

 

Siapa orang yang menjadi panutan bapak?

 

Pak Sony Dwi itu bisa dibilang merupakan panutan saya. Pertama, dia dosen, ganteng, tinggi, dan matching juga [sambil tertawa]. Saya tidak bisa mengalahkan dia. Saya matching dengan diriku [pakaian yang dipakai], sedangkan dia matching dengan mobil pribadinya, terutama mobil mewah. Sekitar 20 mobil mewah dan warna-warni, itu yang nggak bisa saya kalahkan.

 

Sebetulnya manfaat dari asuransi itu adalah ini bagian dari pola risiko. Yang bisa dipindahkan ke perusahaan asuransi. Risiko itu adalah ketidakpastian. Jadi asuransi itu adalah memastikan ketidakpastian. Jika orang tua meninggal, anak-anaknya masih punya biaya untuk melanjutkan hidup.

 

Apa rencana Anda saat pensiun nanti?

 

Ingin menikmati hidup alias tidak terikat kerja. Saya tidak ingin meneruskan cita-cita jadi dubes, tetapi menjadi komisaris di mana-mana saja. Waktu itu, saya sudah enjoy menjadi komisaris, tiba-tiba ada teman yang menyarankan untuk masuk ke Jamsostek. Nantinya, saya benar-benar ingin enjoy, terutama menikmati olahraga favorit saya yakni golf.

 

Ada rahasia agar terus terlihat  muda?

 

Pertama adalah pemikiran kita. Saya adalah orang yang bersikap positif, coba tanya ke sekretaris saya. Marah itu merugikan, karena akan bikin tua. Di rumah juga jarang marah. Artinya easy going. Jika ada masalah, harus dipecahkan diselesaikan.

 

Bicara soal penampilan, sejak kapan punya hobi mengoleksi sepatu?

 

Sejak 1990-an. Kadang memang sengaja show ke mahasiswa. Mereka suka memperhatikan penampilan saya, setiap brand yang saya kenakan. Istri saya justru santai. Koleksi batik saya lebih banyak daripada istri saya, sepatu juga lebih banyak koleksi saya.

 

Saya memiliki 250 pasang sepatu yang disimpan di rak besar bertingkat, yang dipakai sehari-hari 100 pasang. Saya dikenal sebagai eksekutif 1.000 dasi. Namun, jumlahnya sudah tidak 1.000 lagi karena ada yang diberikan ke kerabat.

 

Setelah memiliki banyak pengalaman memimpin perusahaan,  Anda tertarik memiliki perusahaan sendiri?

 

Saya tidak tertarik karena kemungkinan besar gagal. Karena sudah ada contohnya. Jika kerja di perusahaan mapan, sistemnya betul adanya, lebih enak untuk dijalankannya. Lagipula modalnya dari mana?

 

Apa moto hidup & siapa tokoh  idola Anda?

 

Go for it. Jika punya cita-cita, maka lakukan. Lakukan sehingga fokus, simple kan. Kalau tokoh idola saya Bung Karno. Beliau adalah idola keluarga kami. Kami menghargai beliau sebagai proklamator.

 

Siapa yang berperan penting  dalam karier Bapak saat ini?

 

Pak Sony, karena beliaulah yang membuka jalan di industri asuransi. kedua, Firdaus Djaelani [anggota dewan komisioner Lembaga Penjamin Simpanan dan mantan Direktur Asuransi Kementerian Keuangan], karena saat saya masih di Berdikari, dia yang mengajak saya jadi dirut, dengan menjadi konsultan terlebih dulu.

 

Inilah persamaan ketika di Tugu Mandiri, Berdikari, dan Jamsostek. Saya jadi konsultan dulu sebelum menjadi direkturnya. Pada 2006, saya menjadi konsultan balanced score card Jamsostek. Keuntungannya jadi mengetahui seluk-beluknya.

 

Bagaimana Anda mendeskripsikan gaya kepemimpinan Anda?

 

Keteladanan. Orang akan mengikuti apa yang kita instruksikan dan inginkan jika bisa memberikan contoh yang serupa, misalnya jam kerja. Sehabis dari Belanda saya langsung kerja, tidak leha-leha. Keteladanan terkait governance. Itu lebih efektif dari pada berbicara sampai berbusa. Itu bukan tugas yang enteng. Bagaimana caranya untuk menerapkan good governance adalah keteladanan.

 

Apa visi ke depan terhadap kesejahteraan tenaga kerja?

 

Melalui asuransi atau jaminan sosial bagi pekerja adalah benteng terakhir yang menyelamatkan jika terjadi PHK atau kecelakaan. Secara makro, itu adalah mobilisasi investasi jangka panjang yang efektif. Itu harus dibentengi oleh jaminan sosial. Jika sudah di atas level itu adalah asuransi. Indonesia jika dibandingkan dengan Singapura dan Malaysia, posisinya dibawah, tetapi setara dengan Filipina.

 

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Sumber : Edwina & Yeni H. Simanjuntak

Editor : Sitta Husein

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top