Network agregator untuk BlackBerry tidak diperlukan?

JAKARTA: Desakan terhadap pembangunan network aggregator oleh Research In Motion (RIM) di Indonesia dinilai harus dikaji lagi, menyusul aktivitas bisnis operator untuk layanan BlackBerry yang sudah berjalan. Ketua Umum Masyarakat Telematika Indonesia
Mochammad Subarkah
Mochammad Subarkah - Bisnis.com 19 September 2011  |  14:45 WIB

JAKARTA: Desakan terhadap pembangunan network aggregator oleh Research In Motion (RIM) di Indonesia dinilai harus dikaji lagi, menyusul aktivitas bisnis operator untuk layanan BlackBerry yang sudah berjalan. Ketua Umum Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel) Setyanto P. Santosa mengatakan pembangunan network aggregator untuk layanan BlackBerry secara umum akan menguntungkan operator di Indonesia, dengan dampaknya terhadap penyusutan biaya operasional penyediaan layanan. Namun, sejauh ini operator dinilai tidak pernah dirugikan dengan tidak adanya network aggregator untuk layanan BlackBerry tersebut, mengingat beban biaya yang selalu dilimpahkan kepada konsumen. Menurut dia, hal tersebut dinilai murni merupakan kesepakatan bisnis yang selama ini telah terjalin antara operator penyedia layanan BlackBerry dengan RIM, sehingga sebenarnya tidak perlu campur tangan dari regulator. Dalam hal ini, desakan terhadap penyediaan network aggregator tersebut seharusnya dilakukan melalui pendekatan, di mana regulator dan RIM duduk bersama untuk membicarakan mengenai perkembangan industri yang antara lain dapat difasilitasi oleh Mastel. “Kalau untuk urusan nasional itu bagus [campur tangan regulator], tetapi itu murni urusan bisnis. Harusnya dilihat lagi. Kalau mereka disuruh membangun, kita harus melihat apa saja yang mereka butuhkan dan apa yang bisa disediakan pemerintah, jangan dengan mengancam,” ujarnya kepada Bisnis, kemarin. Adapun, pembangunan network aggregator di Indonesia ditujukan untuk melokalisir trafik data domestik di Indonesia, sehingga terjadi penurunan latency yang dapat memberikan penghematan biaya yang signifikan bagi carrier partner (para penyelenggara telekomunikasi) di Indonesia, sekaligus meningkatkan kinerja untuk para pengguna BlackBerry. Desakan pembangunan network aggregator tersebut telah disampaikan seluruh operator penyelenggara layanan BlackBerry kepada Kemenkominfo awal September lalu, meliputi Telkomsel, Indosat, XL Axiata, Bakrie Telecom, Axis Telekom Indonesia, Hutchison CP Telecommunication, dan Smart Telecom. “Sikap penyelenggara telekomunikasi sangat solid dalam menghadapi RIM. Mereka sudah berkirim surat pada kami pada awal September 2011, yang antara lain meminta RIM agar membangun server di Indonesia,” kata Kepala Pusat Informasi dan Humas Gatot S. Dewa Broto. Selain mendesak pembangunan server, dia menambahkan penyelenggara telekomunikasi di Indonesia juga mendesak penyediaan monitoring tools untuk memantau kinerja RIM, dengan tujuan meminimalisasi keluhan pelanggan jika ada masalah krusial tanpa harus tergantung RIM.Desakan lain adalah RIM harus menyusun Service Level Agreement yang transparan untuk mengevaluasi kinerja RIM sehingga jelas standar kualitas layanannya, meningkatkan kinerja terminal handset dengan dilengkapi fitur-fitur tertentu, serta yang lebih penting adalah meminta RIM menyediakan ahli di bidang khusus (technical expert) resmi di Indonesia untuk mengatasi trouble shooting yang ada. Anggota Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) Nonot Harsono menyatakan  sejumlah desakan yang ditujukan terhadap RIM tersebut mengingat Indonesia sebagai pasar yang besar bagi RIM, sehingga memiliki bargaining position yang layak untuk diperhatikan. Dalam hal pembangunan network aggregator, operator layak untuk mengajukan desakan itu, mengingat beban operasional yang cukup besar dalam penyediaan layanan BlackBerry bagi konsumen, di mana selama ini telah memberikan keuntungan sangat besar bagi RIM. “Selama ini memang operator menanggung biaya besar untuk penyediaan layanan BlackBerry. Itu yang harus digantikan RIM dengan membangun network aggregator di sini. Kalau terkait komitmen RIM yang lain seperti filtering konten negatif, atau penyadapan itu merupakan bentuk rasa saling menghargai,” jelasnya.(api) 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Lingga Sukatma Wiangga

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top