Pengajuan filing baru di 108,2 oBT dinilai janggal

News Editor | 22 Desember 2010 13:06 WIB

JAKARTA: Pemerintah diminta menjelaskan maksud pengajuan filing satelit baru di slot orbit 108,2 oBT padahal Indonesia sudah memiliki slot di dekatnya, yaitu 107,7oBT.

Anggota Asosiasi Satelit Indonesia (Assi) Hermanudin mengungkapkan sangat janggal apabila pemerintah mengajukan slot baru hanya dengan jarak 0,5 o dengan slot lama yang sudah jadi miliknya.

Secara teknis satelit dengan jarak hanya 0,5 o dan beam yang sama akan saling berinteferensi sehingga pad aakhirnya hanya satu orbit yang berfungsi, katanya kepada Bisnis hari ini.

Pemerintah, yaitu Ditjen Postel diketahui mengajukan filing satelit baru memenuhi kepentingan PT Media Citra Indostar (MCI/Indovision) yang harus pindah slot orbit sesuai dengan kebutuhan pemiliks atelitnya, yaitu SES SA.

Menurut Herman, bila satelit itu dianalogikan sebagai pesawat, bila suatu pesawat milik lokal maka ada kejelasan pembelian, kontrak, pajak yang harus dibayar, masuk PPN, bea masuk dan lainnya dengan pemasukan barang ke zona lokal.

Dengan demikian statusnya hak milik dan kalau di angkasa berarti masuk dalam zona orbit filing Indonesia. Bila pesawatnya sewa, maka tentu ada kontrak sewa yang timbul tiap bulannya, termasuk pajak, PPN, PPh, dan lainnya, tuturnya.

Dan dalam hal satelit, tambahnya, maka tentu saja harus meminta izin frekuensi dalam bentuk hak labuh.

Corporate Secretary MCI Arya Mahendra mengungkapkan pihaknya bersama SES SA asal Prancis memindahkan satelit Indostar 2 ke slot orbit 108,2 oBT sebagai jalan tengah terbaik antara dua perusahaan tersebut.

Menurut dia, saat ini pemerintah melalui Ditjen Postel Kemenkominfo tengah mengurus filing satelit di pita 108,15 oBT tersebut agar menjadi milik Indonesia di ITU. Di slot 107,7 oBT akan diisin satelit Indostar 1 yang masih hidup sampai saat ini.

Dalam siaran pers seperti dikutip dari situs http://www.ses-worldskies.com, SES akan menempatkan satelitnya di slot orbit 108,2 oBT untuk meningkatkan pasarnya di Asia Pasifik. Di slot orbit tersebut, selain SES-7 ada juga satelit NSS-11.

SES-7 membawa 22 transponder Ku-band dan 10 transponder S-band. Pada bagian S-band, SES-7 menyewakan kapasitasnya kepada Indovision selama 15 tahun.

Rob Bednarek, President and CEO of SES World Skies, mengatakan akuisisi satelit Protostar 2 merupakan contoh lain fokus perusahaannya yang ingin mengembangkan pasar baru di Asia Selatan dan Asia Pasifik.(api)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Lingga Sukatma Wiangga

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top