Potensi rugi terlambat gelar broadband Rp40 triliun

JAKARTA: Indonesia setiap tahun terancam kehilangan kontribusi pendapatan domestik bruto Rp40 triliun bila tidak segera menggelar akses jaringan tetap pita lebar (broadband) di seluruh wilayah Indonesia.
Bambang Priyo Jatmiko | 19 Desember 2010 08:27 WIB

JAKARTA: Indonesia setiap tahun terancam kehilangan kontribusi pendapatan domestik bruto Rp40 triliun bila tidak segera menggelar akses jaringan tetap pita lebar (broadband) di seluruh wilayah Indonesia.

Sumitro Roestam, Ketua Bidang Infrastruktur, Jasa dan Aplikasi Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel), mengatakan potensi kerugian itu sebagai akibat keterlambatan penggelaran penggelaran jaringan broadband terutama di sektor bisnis. Dalam kurun lima tahun, jika terlambat, Indonesia mengalami kerugian sekitar Rp40 triliun, ujarnya di sela-sela acara Broadband Award 2010.

Menurut Sumitro, perhitungan potensi kerugian itu dihitung dari pertumbuhan ekonomi di sektor telekomunikasi yang mencapai 3% per tahun dikalikan produk domestik bruto masyarakat Indonesia.

Hermanudin, General Manager Business Development PT Indosat Mega Media (IM2), mengatakan penggelaran broadband secara riil di Indonesia baru mencapai 30%. Ini yang riil tergarap dan yang benar-benar [sudah] digunakan oleh pelanggan, tegasnya.

Sukaca Purwokardjono, Group Head Product Development PT Mobile-8 Telecom Tbk, berpendapat pembangunan jaringan broadband perlu mendapat perhatian khusus dari pemerintah mengingat potensi dari pertumbuhan layanan broadband sangat menjanjikan.

Menurut Sukaca, operator telekomunikasi tidak dapat bergerak sendirian dan membutuhkan kerja sama dari industri pendukung. Operator Mobile-8 Telecom yang melakukan sinergi dalam pemasaran dengan operator Smart Telecom kini mengklaim melayani 350.000 pelanggan broadband dengan nilai pendapatan rata-rata per pelanggan (ARPU) sebesar Rp80.000 per bulan.

Dalam acara yang dihadiri kalangan praktisi broadband itu, komunitas telematika berharap agar pemerintah mengatur regulasi yang tepat untuk memenuhi kebutuhan jaringan akses pita lebar ini.

Adapun vendor manage service Nokia Siemens Network memaparkan bahwa peluang bisnis industri di Indonesia akan terus tumbuh dan berkembang selama didukung dengan penerapan teknologi yang efisien. Strategi ini akan membantu operator dalam meningkatkan ARPU. Peluang tersebut diklaim dapat direalisasikan saat penggelaran teknologi 4G atau long term evolution (LTE).

Dari survei yang melibatkan 250 responden pengguna layanan data selama satu semester terakhir di Jakarta, Surabaya, Medan, Bandung dan Makassar terseleksi sejumlah pelaku usaha industri broadband yang diklaim terbaik diantaranya Telkomsel, Indosat Mega Media (IM2), Smartfren. (tw)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Mursito

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top