Telkomsel kurangi emisi karbondioksida

JAKARTA: Operator seluler Telkomsel berhasil mengurangi emisi hingga 1.261,49 ton karbondioksida (CO2) per tahun.
Bambang Priyo Jatmiko | 15 Desember 2010 09:50 WIB

JAKARTA: Operator seluler Telkomsel berhasil mengurangi emisi hingga 1.261,49 ton karbondioksida (CO2) per tahun.

Sarwoto Atmosutarno, Direktur Utama PT Telkomsel, mengatakan pihaknya mengembangkan dan menyebarkan inovasi di basis industri telekomunikasi seluler.

Inovasi dalam teknologi ini kami sebarkan agar bermanfaat bagi pelestarian lingkungan disamping untuk tujuan memenuhi kebutuhan gaya hidup modern, ujar Sarwoto di sela-sela kampanye Telkomsel Paling Indonesia hari ini.

Lingkungan, tutur Sarwoto, menjadi salah satu aspek yang tidak akan luput dari perhatian Telkomsel yang telah mengoperasikan base transceiver station (BTS) mikrohidro pertama di Indonesia.

Inovasi itu memanfaatkan aliran sungai di sekitar BTS serta BTS yang menggunakan solar cell. Dengan berbagai efisiensi yang dilakukan untuk lingkungan, operator itu mengklaim berhasil mengurangi emisi 1.261,49 ton CO2 per tahunnya.

Hingga pertengahan tahun ini, Telkomsel membangun 132 BTS go green sebagai inovasi sumber listrik alternatif ramah lingkungan dengan tenaga matahari (solar cell), tenaga air, dan tenaga angin.

Jumlah BTS go green tersebut memperkuat klaim Telkomsel sebagai operator seluler dengan jumlah green BTS terbanyak di Asia yang peduli terhadap lingkungannya.

Sementara itu, dari sisi bisnis, operator itu memaparkan telah menggelar layanan broadband tercepat 21 Mbps dan juga BTS terapung di kapal milik PT Pelni yang memungkinkan para penumpang untuk melakukan panggilan telepon walaupun di tengah lautan.

Di sisi lain, di penghujung tahun ini Telkomsel telah selesai membuka akses di 25.412 Desa Berdering dan 104 Desa Pinter (Desa Punya Internet).

Sejak 2004, Telkomsel mengklaim sebagai satu-satunya perusahaan di industri telekomunikasi yang masuk ke dalam daftar 10 penyumbang pajak terbesar di Indonesia dengan sumbangsih kepada negara sebesar 1% dari penerimaan pajak APBN setiap tahunnya.(jha)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Mursito

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top