Penambahan lisensi operator picu kredit macet

JAKARTA: Ancaman kredit macet di sektor telekomunikasi lebih karena adanya perang tarif dan terlalu banyaknya operator yang bermain.
News Editor
News Editor - Bisnis.com 08 Desember 2010  |  08:08 WIB

JAKARTA: Ancaman kredit macet di sektor telekomunikasi lebih karena adanya perang tarif dan terlalu banyaknya operator yang bermain.

Ketua Asosiasi Telekomunikasi Seluler Indonesia (ATSI) Sarwoto Atmosutarno mengatakan kredit macet sangat mungkin terjadi di industri telekomunikasi.

Terutama karena EBITDA dan free cashflow tidak seperti yang diharapkan. Konsolidasi harus segera dilaksanakan, bukannya malah menambah operator atau lisensi baru, tegasnya kepada Bisnis hari ini.

Sarwoto mengaku sudah meminta ATSI/Kadin untuk membuat skenario sustainability layanan dan penyediaannya (kapasitas dan jumlah penyelenggara) baik untuk layanan dasar suara dan SMS maupun layanan berbasis Internet.

ATSI berharap pemerintah tanggap terhadap kondisi tersebut karena telekomunikasi merupakan hajat hidup orang banyak.

Kredit macet dan pertumbuhan semu diprediksi akan menghinggapi industri telekomunikasi dalam 2-3 tahun ke depan.

Anggota Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) Nonot Harsono menilai tanda-tanda ke arah itu (kredit macet) sudah jelas di mana banyak operator yang panik dan selalu ingin tampil cantik di bursa saham.

Saya yakin nanti akan banyak saham bodong dan NPL [kredit macet] di sektor penyelenggaraan telematika. Hal tersebut bisa di cek ke perbankan, katanya.

Menurut dia, biasanya operator tersebut minta penurunan tarif interkoneksi dan pada saat bersamaan membanting harga on-net (dalam jaringan) hingga tidak masuk akal. Nonot mengungkapkan upaya operator mengutak atik jumlah pelanggan dengan cara aktivasi paksa juga merupakan salah satu hal yang memicu pertumbuhan semu industri.

Sebenarnya fenomena apa yang bisa diambil dari catatan jumlah pelanggan operator telekomunikasi? Satu yang tak bisa dibantah adalah pertumbuhan pelanggan pascabayar selalu lebih rendah daripada pelanggan prabayar.

Menurut Nonot, hal tersebut sangat wajar mengingat jumlah pelanggan pascabayar tidak bisa dibohongi atau dikemas dalam kosmetika apapun.

Berbeda dengan pelanggan prabayar, yang bisa diakali dengan memperpanjang masa tenggang, membiarkan nomor pelanggan yang sebenarnya tidak aktif sebagai pelanggannya, dan mengklaim sebagai pelanggan setiap ada pengaktifan nomor perdana, meski pelanggan hanya mengaktifkan dan langsung dibuang pada hari itu juga.

Hal tersebut sangat beralasan, karena sejumlah program promosi operator sangat menarik masyarakat untuk membeli kartu perdana yang biasanya diiming-imingi dengan sejumlah bonus tertentu. Manakala bonus tidak lagi diberikan, maka pelanggan dengan gampangnya membuang nomor tersebut.

Esia memiliki program promosi Esia GANAS (Gratis Nelpon Nasional), adapun XL meluncurkan program promo bertajuk Paket Combo yang memungkinkan pelanggan menikmati gratis 100 SMS serta 1MB layanan data setiap hari hingga 5 Mei 2010 mendatang.

Selain Paket Combo, XL juga memiliki program promosi Paket Nelpon Gila, yaitu beli Kartu Perdana XL mendapat paket Nelpon Gila, cuma nelpon 1 menit-an GratIs seGAlanya, ditambah dan 1MB layanan data.

Indosat juga tak ketinggalan, memiliki program promosi bertajuk IM3 semua Murah, bonus 1.500 SMS, nelpon cuma Rp 0,1/detik, Mentari Paket 50 (Nasional), Mentari Obral Obrol, Mentari Free Talk 5 Jam, dan Mentari Free Talk 5000, serta Mentari Hebat Ber-5.Telkomsel juga memiliki program promosi, yaitu Kartu As serba Rp1.000 dan Simpati Jagoan Duo.

Seiring dengan murahnya harga kartu perdana dengan tambahan pulsa sebesar Rp10.000, tambah Nonot, pengguna dari kalangan menengah ke bawah sangat terbiasa ganti nomor begitu pulsa pada kartu perdana habis.(api)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Lingga Sukatma Wiangga

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top